Pengembangan Lengkeng Dataran Rendah
Tuesday, May 7, 2019
Add Comment
Tanaman lengkeng (Dimocarpus longan Lour.) dalam sistem penjabaran tumbuhan termasuk keluarga Sapindaceae, dan termasuk satu suku (Nepheliaea) dengan tumbuhan lecee dan rambutan (Lampiran 1). Asal mula lengkeng ialah tempat subtropik tetapi jenis tumbuhan ini ternyata sanggup tumbuh baik di tempat panas (tropik). Di Indonesia, buah lengkeng umumnya dipakai sebagai buah meja walaupun buah ini juga sanggup dijumpai dalam kemasan kaleng maupun sebagai buah yang dikeringkan. Banyak yang belum mengetahui bahwa buah lengkeng yang dalam bahasa mandarin dikenal sebagai “ong ya guo” atau “long yan”yang berarti mata naga mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan dan dunia kecantikan, Bagi kesehatan, khasiat daging buah lengkeng telah ditulis dalam beberapa artikel antara lain bermanfaat untuk meningkatkan vitalitas, pengobatan penyakit insomnia, cemas, depresi, gampang murka dan berkeringat, kurang nafsu makan, limpa lemah, tubuh lemah sehabis sakit, pusing, diare, batuk dan asma, penglihatan kabur, dan menghaluskan kulit. Selain buahnya, daun lengkeng mengandung quercetin, sebagai antioksidan dan antiviral serta dipakai untuk mengobati penyakit alergi, kanker, diabetes dan kardiovaskuler. Bubuk biji lengkeng mengandung busa dan sanggup dipakai sebagai sampo. Di Cina dan Vietnam, buah lengkeng juga dipakai sebagai penangkal racun.
Pada mulanya tempat penghasil lengkeng di Indonesia ialah dataran tinggi di Jawa Tangah dan Jawa Timur, tetapi pada akhir-akhir ini beberapa pekebun/petani telah berhasil berbagi lengkeng di dataran rendah menyerupai di tempat Selarong (DIY) yang dikenal dengan varietas Selarong, di Singkawang dan Pontianak (Kalbar), dan Demak dan Semarang (Jateng) berbagi beberapan varietas introduksi antara lain Diamond River, Pingpong dan Itoh. Ketiga varietas terakhir mendapat perhatian yang lebih besar sebab mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis lengkeng yang sudah ada, antara lain umur lebih genjah dan rajin berproduksi, ukuran buah lebih besar, daging buah lebih tebal, rasa lebih manis, dan pemeliharaan relatif lebih mudah. Adaptasi yang baik dari varietas lengkeng yang konon bibitnya didatangkan dari Vietnam (Ping Pong, Diamond River), Malaysia (Itoh) dan Thailand (Bie Kiew, Ido, dan Sichompu) merupakan salah satu indikasi bahwa lengkeng mempunyai potensi besar untuk dikembangkan di dataran rendah Indonesia. Selain mempunyai sumberdaya alam yang sesuai, fakta bahwa jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar merupakan potensi pasar yang harus diperhitungkan. Pertambahan jumlah penduduk yang diikuti oleh peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat terhadap gizi akan mengarah pada peningkatan usul masyarakat terhadap buah-buahan. Berdasarkan data yang ada, impor buah lengkeng pada tahun 2002 sekurang-kurangnya 20.000 ton dan pada tahun 2003 meningkat hampir mencapai 350 ton atau setara dengan US $ 386.000.
Seperti halnya tumbuhan buah tahunan lainnya, pengembangan lengkeng perlu direncanakan secara matang sebab uasahatani lengkeng membutuhkan modal besar (lahan luas, bibit, saprodi dan tenaga kerja relatif lebih mahal, dan lain-lain) dan jadinya akan dinikmati dalam jangka panjang. Salah satu faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam menyusun planning pengembangan lengkeng ialah pemilihan lahan tanam, sebab hasil optimal dan pengelolaan kebun yang efisien hanya didapatkan di kebun-kebun yang mempunyai karakteristik lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Berdasarkan kenyataan bahwa pertumbuhan dan hasil lengkeng secara alami sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan lengkeng dataran rendah merupakan teknologi gres di Indonesia yang belum banyak informasinya, maka pada makalah ini disajikan secara ringkas hasil-hasil penelitian Karakterisasi Lahan Tanaman Lengkeng Dataran Rendah Di Indonesia yang dilakukan oleh BALITJESTRO. Tulisan ini diperlukan sanggup berkhasiat sebagai salah satu materi pertimbangan dalam menyusun planning pengembangan lengkeng dataran rendah dan atau sebagai salah satu referensi bagi peminat yang akan mengusahakan atau mendalami tumbuhan lengkeng.
Persyaratan Tumbuh
Lengkeng merupakan jenis tumbuhan yang pembungaannya di ujung ranting, dan bersifat biennial bearing yang artinya hasil tinggi dalam satu trend akan diikuti oleh hasil rendah pada trend berikutnya. Secara alami, pembungaan dan pembuahan lengkeng banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu iklim dan tanah. Dalam memilih lokasi pengembangan, faktor iklim yang penting ialah suhu dan curah hujan, sedangkan faktor tanah yang diutamakan ialah kondisi fisik tanah (kedalaman efektif, tekstur, draenase, dan batuan permukaan) sebab kondisi fisik tanah sulit untuk diperbaiki dan untuk memperbaikinya dibutuhkan biaya jauh lebih mahal dibandingkan dengan memperbaiki kesuburan kimia tanah. Oleh sebab itu iklim dan kondisi fisik tanah merupakan komponen utama yang dipakai untuk menilai kriteria kesesuaian lahan tumbuhan lengkeng.
Suhu dan Curah Hujan.
Meskipun berasal dari tempat subtropik, tumbuhan lengkeng sanggup tumbuh dan berbunga baik di tempat tropik asalkan terdapat perubahan trend yang tegas (menyolok). Tanaman lengkeng banyak ditemukan di tempat yang mempunyai suhu sekitar 15 – 30oC. Pertumbuhan dan hasil yang baik biasanya didapatkan di tempat yang mempunyai trend cuek pendek (suhu 15 – 22oC selama 3 bulan), dan trend kemarau panjang yang panas, lembab dan basah. Setelah periode panen dan tumbuhan melewati periode pertumbuhan daun maksimal, kondisi suhu udara < 25oC dan ketersediaan air yang rendah merupakan kondisi ideal untuk periode istirahat tumbuhan yang akan memicu induksi pembungaan. Pada masa induksi pembungaan dibutuhkan suhu rendah (< 22oC) sekitar 2 bulan, jikalau suhu udara > 22oC sanggup menjadikan kegagalan pembungaan. Berdasarkan hasil survei lapangan dan pengumpulan data dari para penggerak lengkeng dataran rendah di Indonesia, tumbuhan lengkeng varietas Itoh, Ping Pong dan Diamond River sanggup tumbuh di ketinggian hingga 700 meter diatas permukaan maritim (m dpl.), tetapi yang paling baik (sesuai) ialah di dataran rendah hingga ketinggian kurang dari 500 m dpl. Di tempat yang lebih tinggi biasanya tumbuhan lebih lambat menghasilkan bunga sehingga pengembalian modal menjadi lebih lama..
Tanaman lengkeng sanggup dikembangkan di tempat yang mempunyai curah hujan tahunan antara 1.000 – 3.000 mm dengan jumlah bulan kering (< 60 mm) sebanyak 3 – 6 bulan. Salah satu referensi ialah pusat lengkeng di dataran rendah Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, selama sepuluh tahun mempunyai curah hujan tahunan rata-rata 2.250 mm dengan bulan kering 5 bulan berturut-turut mulai Juli hingga dengan Oktober.
Secara umum fase pertumbuhan tumbuhan lengkeng dibagi menjadi lima fase, yaitu panen, pertumbuhan daun, istirahat, induksi pembungaan, dan pembungaan. Faese-fase tersebut berafiliasi dengan kondisi iklim dan lingkungan setempat setempat, mencakup suhu, ketersediaan air dan nutrisi (Gambar 2). Kebutuhan air paling besar ialah pada periode induksi pembungaan hingga final periode pertumbuhan daun, sebaliknya pada periode istirahat tunjangan air dan pupuk N perlu dikurangi.
Kondisi Tanah.
Lengkeng merupakan jenis tumbuhan pohon yang sanggup tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 10 m dan lebar tajuk sekitar 15 m, mempunyai percabangan yang banyak dan daun yang rimbun. Agar biar tidak gampang roboh dan untuk memenuhi kebutuhan makanannya, tumbuhan ini didukung oleh sistem perakaran yang baik, yaitu mempunyai akar tunggang yang dalam dan akar kesamping yang luas. Oleh sebab itu tumbuhan lengkeng yang masih bertahan hingga bau tanah umumnya dijumpai pada tanah-tanah yang mempunyai kedalaman efektif cukup dalam. Tanah-tanah dangkal yang mempunyai kedalaman efektif kurang dari 30 cm mungkin tidak mengganggu pertumbuhan awal tanaman, tetapi dalam jangka panjang hal tersebut akan menghipnotis pertumbuhan maupun hasil buah.
Sentra lengkeng di Indonesia umumnya mempunyai kesuburan tanah yang bervariasi (Lampiran Tabel 1), mempunyai daya pembiasaan yang baik pada banyak sekali tekstur tanah, kecuali tekstur liat (clay) berat dan pasir. Tanah-tanah berat yang kandungan partikel liatnya tinggi mempunyai konsistensi sangat teguh, dan draenasenya terhambat hingga sangat terhambat sanggup menjadikan gangguan perakaran, yaitu perkembangan akar terhambat atau serangan penyakit anyir akar. Tanah-tanah pasir yang konsistensinya sangat lepas, dan draenasenya cepat menjadikan tumbuhan mengalami gangguan pertumbuhan dan pembungaan berkaitan dengan kekurangan air dan kesuburan kimia tanah yang rendah. Penanaman lengkeng di tempat ini membutuhkan masukan teknologi yang sangat mahal sehingga dianggap tidak sesuai.
Tabel 1. Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Lengkeng Dataran Rendah
| SIMBOL | KUALITAS DAN KARAKTERISTIK LAHAN | KELAS KESESUAIAN LAHAN | ||
| S | CS | N | ||
| t | ELEVASI | |||
| - Ketinggian tempat (m dpl.) | < 500 | 500 – 700 | >700 | |
| w | IKLIM | |||
| - Curah Hujan | 1.500 – 2.500 | 1.000 – 1.500 | >3.000 | |
2.500 – 3.000 | <1 .000="" span="">1> | |||
| r | KONDISI MEDIA PERAKARAN | |||
| - Kedalaman Efektif (cm) | > 75 | 30 – 75 | <30 span="">30> | |
| - Tekstur Tanah | Lainnya | Lainnya | Liat berat, pasir, | |
| - Konsisitensi tanah | Sangat gembur – gembur | Teguh | Sangat teguh, lepas (pasir) | |
| - Kelas Drainase Tanah | Baik | Agak terhambat – agak cepat | Cepat, terhambat, sangat terhambat | |
| s | MEDAN (TERAIN) | |||
| - Lereng (%) | ||||
| - (Relief (% datar) | ||||
| - Batuan Permukaan (%) | < 30 | 30 – 50 | >50 | |
S : Sesuai
CS : Sesuai bersyarat
N : Tidak sesuai
Oleh : Sutopo
0 Response to "Pengembangan Lengkeng Dataran Rendah"
Post a Comment