Peluang Perjuangan Dari Budidaya Ikan Sidat
Friday, December 27, 2019
Add Comment
referensi perikanan tentang ikan sidat
Peluang Usaha dari Budidaya Ikan Sidat
Ikan sidat atau unagi banyak dikonsumsi sebagai makanan glamor di Jepang, Hongkong, dan Korea alasannya kandungan tinggi protein dan omega-3 yang mempunyai kegunaan untuk kesehatan tubuh. Namun, benih ikan sidat yang banyak di perairan Indonesia belum banyak dimanfaatkan di negeri sendiri.
Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan sidat (Anguilla sp), yaitu Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.
Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai menjajaki perjuangan budidaya ikan sidat pada final tahun 2008.
Teknik pembesaran ikan sidat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan sidat bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.
Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.
Kemudian, dana sebesar itu dipakai untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.
Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak bak ikan berukuran masing-masing 20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan sidat, serta persiapan sarana dan prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada jaringan listrik yang memadai.
Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan pembesaran ikan sidat bicolor di lahan mereka. Namun, perjuangan pembesaran ikan sidat bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai dan air bahari sulit mengikuti keadaan di bak air tawar.
Ikan sidat yaitu jenis karnivora (pemakan ikan) yang mempunyai sifat katadromos, yaitu awalnya berkembang biak di bahari dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar) untuk membesarkan diri.
Sifat itu menciptakan ikan sidat sulit mengikuti keadaan dan mengubah teladan makan di habitat gres bak air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata alasannya ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang kehancuran.
Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan sidat selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa pembiasaan lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.
Dengan perlakuan khusus, ikan sidat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut, Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka pribadi beralih dengan membidik segmentasi ikan sidat marmorata yang seruan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.
Ikan sidat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih sidat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40 gram per ekor, dalam bulan ke-7 hingga ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40 gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.
Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen sidat sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari 500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya akan semakin mahal jikalau bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp 180.000 per kg.
Pasar utama ekspor ikan sidat yaitu Hongkong, China, dan Taiwan. ”Minat pasar ekspor yang tinggi terhadap ikan sidat menciptakan hasil produksi selalu terserap pasar, berapa pun jumlahnya,” ungkap Syaiful.
Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa daerah perairan yang banyak terdapat benih ikan sidat di antaranya di pesisir Sumatera bab barat, Sulawesi, dan pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan bahari dalam. Harga benih sidat marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.
Sayangnya, seiring maraknya seruan di pasar internasional, penyelundupan benih ikan sidat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.
Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga mencapai Rp 2,5 juta per kg.
Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya sidat di Tanah Air yang belum berkembang luas, bukan mustahil masyarakat Jepang kelak akan mencuri start dalam pembudidayaan ikan sidat secara luas.
”Indonesia yaitu negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jikalau potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, sanggup dipastikan rakyat Indonesia sulit memperoleh nilai tambah dari perikanan,” ujar laki-laki yang sebelumnya menekuni bisnis penjualan pulsa itu.
Salah satu ambisinya dalam waktu bersahabat yaitu memperluas pemasaran ikan sidat ke pasar-pasar dalam negeri. ”Kalau pasar ekspor dengan gampang sanggup ditembus, kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini,” papar Syaiful.
Ia menargetkan produksi ikan sidat pada panen kedua bulan Juli 2010 sanggup mencapai 1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan teknik pembesaran ikan sidat ke warga Indramayu.
Caranya, melepas benih ikan sidat berukuran 100 gram kepada warga untuk dibesarkan hingga ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.
Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah mempunyai regulasi yang tegas untuk membuatkan benih ikan sidat, memperluas teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan benih yang merugikan perikanan budidaya. (Kompas)
Sumber : http://agrobost.co.id/
0 Response to "Peluang Perjuangan Dari Budidaya Ikan Sidat"
Post a Comment