Artikel Wacana Filsafat Padi
Monday, May 13, 2019
Add Comment
Orang bijak sering berujar, tirulah ilmu padi. Kian berisi, kian merunduk. Maksud dari pesan bijak itu ialah jikalau kita mempunyai ilmu janganlah sombong, tetapi sebaliknya hendaklah semakin bijaksana. Semakin banyak pengetahuan dan ilmu yang kita miliki hendaknya semakin cerdik dan bijak pula kita. Demikianlah pesan tadi yang mengandung makna filsafat yang mendalam.
Mengapa pesan tersebut dikatakan mengandung nilai filsafat? Kata filsafat sendiri berarti cinta terhadap kebijaksanaan ataupun cinta akan kearifan. Menurut Bakhtiar (2011) kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophy, yang terdiri dari dua kata: philos dan sophos. Philos berarti cinta dan sophos berarti nasihat atau bijaksana. Dengan demikian, secara harfiah filsafat bermakna cinta bijaksana. Namun, secara lebih luas, filsafat didefinisikan sebagai berpikir secara menyeluruh, mendalam, logis, sistematis, tapi juga spekulatif mengenai hakikat segala sesuatu untuk mencari kebenaran.
Bila diresapi dengan mendalam, maka betapa filsafat mengandung nilai yang sangat luhur dan sangat diharapkan di dalam kehidupan manusia. Sebenarnya filsafat sudah banyak berperan dalam kehidupan insan semenjak berabad-abad lalu. Dulu orang percaya pada dewa-dewa penyebab bencana, mirip tuhan banjir, tuhan gempa, dan dewa-dewa lainnya yang sangat menakutkan. Setelah berguru filsafat kemudian orang tidak takut lagi pada dewa-dewa tersebut, lantaran sesungguhnya fenomena alam tidak terkait sama sekali dengan dewa. Namun, kini filsafat dirasakan lebih diharapkan lagi daripada di masa lalu. Saat ini kebutuhan insan lebih banyak dan lebih beragam, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya, insan memerlukan lebih banyak ilmu dan pengetahuan dibanding dahulu kala.
Terkait dengan kiprahnya dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan. Suriasumantri (1999) menyatakan bahwa filsafat ialah pionir dan peneretas pengetahuan. Meminjam pendapat Will Durant, dia menyatakan bahwa filsafat sanggup diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infantri ini ialah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan ilmuwan. Sebab sehabis itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang sanggup diandalkan. Selain itu, dia juga menyampaikan bahwa filsafat juga berperan sebagai pengawal ilmu dan pengetahuan.
Tanpa dikawal filsafat, selain berguna, ilmu sanggup juga menimbulkan tragedi dan membawa malapetaka bagi manusia. Banyak contoh sudah terjadi. Bom atom yang dikembangkan atas dasar ilmu telah menjadi monster pembunuh pada perang dunia II. Reaktor nuklir juga tidak sedikit menelan korban. Akhir-akhir ini ada upaya untuk mengkloning manusia, yang bila tidak dikawal oleh pikiran jernih dari kearifan filsafat juga akan membawa tragedi bagi kelangsungan hidup insan itu sendiri. Bakhtiar (2011) menyatakan bahwa ilmu tanpa pengawalan filsafat sanggup membawa ilmu tersebut kepada tujuan yang tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan bencana.
Bagaimana filsafat mengawal ilmu? tentunya dengan filsafat ilmu. Menurut Bakhtiar (2011) filsafat ilmu ialah kajian secara mendalam wacana dasar-dasar ilmu. Dasar-dasar ilmu yang dimaksud terdiri dari 1) objek yang ditelaah, 2) metode mendapatkannya, dan 3 tujuannya. Ketiga objek ilmu tersebut dikaji dengan proses berpikir yang mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Ilmu dan bagian-bagiannya barulah sanggup dikatakan benar bila memenuhi tolok ukur kebenaran. Dalam filsafat, ada tiga tolok ukur kebenaran yang sanggup dipakai. Pertama, sesuatu itu sanggup dikatakan benar bila subjek dan objeknya berkorespondensi (selaras). Kedua, sesuatu itu benar, bila sesuatu itu konsisten (sesuai) dengan yang sebelumnya yang dianggap benar. Ketiga, sesuatu itu benar, bila sesuatu itu bermanfaat bagi manusia.
Secara filsafat, tiga tolok ukur kebenaran ini secara bersama atau sendiri-sendiri sanggup digunakan sebagai contoh untuk mencari kebenaran. Tulisan ini mencoba melihat kebenaran pada praktek agronomi penanaman padi oleh para petani. Kebenaran, sebagaimana dijelaskan di atas, sanggup dilihat dari tolok ukur kebenaran secara langsung, tetapi juga sanggup didekati secara tak eksklusif dari posisi yang berlawanan, yaitu ketidakbenaran. Dengan kata lain, kita sanggup mencari kebenaran dengan melihat sesuatu dari sisi ketidakbenarannya. Oleh lantaran itu, selanjutnya, ketidakbenaran anggapan dan prilaku akan sering digunakan dalam sajian wacana filsafat bertanam padi nantinya. Pertama sekali, marilah kita lihat terlebih dahulu apa itu padi.
Padi ialah tumbuhan yang termasuk dalam jenis rumput-rumputan. Akarnya termasuk akar serabut. Batangnya berbuku-buku dan di dalamnya kosong mirip pipet yang digunakan untuk pertukaran gas. Daunnya mirip pita. Bunga jantan dan betina ada dalam satu bunga yang terletak pada malai, yang kemudian menjadi gabah. Ada banyak varietas padi yang ditanam oleh para petani. Ada banyak ragam teknik agronomi yang digunakan serta ada banyak juga ragam pandangan dan anggapan menyangkut dengan padi. Sesuai judul di atas mari kita lihat tumbuhan ini dari sisi pandang filsafat bertanam padi.
Filsafat bertanam padi yang dimaksud di sini ialah filsafat yang berkenaan dengan cara bercocok tanam padi. Karena filsafat mengandung arti bijak, maka secara sederhana, filsafat bertanam padi ialah penerapan cara bertanam padi secara bijak atau arif; Atau dengan sedikit pengertian filsafat yang lebih luas, ialah bertaman padi secara benar dan bermanfaat. Pertanyaannya apakah kini ini para petani kita telah bijak dalam bertanam padinya. Jawabannya sanggup beragam, sanggup bijak, tidak bijak, belum bijak, atau sudah tidak bijak lagi.
Kalau jawabannya yang terakhir kita ambil maka itu bermakna dulu pernah bijak, tetapi kini tidak bijak lagi. Kalau jawabannya belum bijak, maka itu artinya mereka belum tahu bagaimana yang bijak sehingga ada impian mereka akan jadi bijak manakala mereka sudah diberi tahu bagaimana yang bijak. Yang manapun jawabannya, kita perlu memberi tahu kepada para petani bagaimana seharusnya bertanam padi yang bijak, yang secara filosofi ialah juga benar.
Sesungguhnya petani padi mempunyai banyak sekali pengetahuan wacana tumbuhan padi dan sawahnya. Pengetahuan tersebut diperolehnya dari banyak sekali sumber. Ada dari penyuluh, orang bau tanah atau kerabatnya, baik secara turun temurun ataupun in situ di tempat dia bertanam. Menurut Suriasumantri (1999) dan Bakhtiar (2011) sumber pengetahuan sanggup berasal dari rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu. Sebagian pengetahuan yang mereka miliki ialah benar dan mempunyai kegunaan bagi pertumbuhan dan produksi pertanamannya, namun sering juga tidak rasional, bahkan ada juga yang keliru sehingga merugikan pertanaman dan dirinya sendiri.
Penulis mencoba mengangkat beberapa anggapan dan prilaku petani padi yang keliru. Secara filsafat, praktek ini sanggup dikatakan tidak benar dan tidak memperlihatkan manfaat apa-apa bagi petani, bahkan cenderung merugikan. Ada selusinan atau bahkan lebih kekeliruan yang terus dipraktekkan para petani di tanah sawahnya.
Kesalahan pertama ialah anggapan bahwa varietas padi gres tidak elok dan tidak cocok. Akibatnya, para petani enggan menanam varietas padi baru. Anggapan ini penulis dengar sendiri saat bertugas di Nias, tahun 2006 sehabis insiden gempa dan tsunami 2004. Ketika itu, penulis bersama petugas lainnya, berusaha memperkenalkan varietas Ciherang, lantaran dari kajian ditemukan bahwa varietas ini sangat menjanjikan. Kemudian memang terbukti bahwa varietas ini lebih banyak didominasi ditanam di Indonesia dan memperlihatkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas sebelumnya (BBPTP, 2005).
Bertolak belakang dengan pendapat di atas, banyak juga petani kita berpandangan bahwa varietas usang (varietas orisinil daerah) tidak perlu dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya. Pandangan ini memang jarang disampaikan dalam bentuk lisan, tetapi indikasinya sanggup ditangkap dari kenyataan di lapangan. Sekarang ini, hampir tidak ada lagi petani padi yang menanam varietas orisinil daerah, kecuali sedikit sekali. Di tempat kelahiran penulis, Kuala Simpang, Aceh Tamiang, varietas orisinil sudah sangat sulit ditemukan, kalau tidak mau menyampaikan sudah punah. Masih teringat, dulu ada yang namanya varietas Si Raup, Si Kuning, Si Kruing, dan Si Pahit. Lalu, apa gunanya varietas ini dilestarikan? Jawabannya ialah sebagai sumber plasma nutfah atau sebagai sumber keragaman genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman, khususnya padi. Sebagai contoh pada pemuliaan padi tahan kekeringan, Blum (2011) menyarankan bahwa di antara sumber plasma nutfah yang tersedia, biar plasma nutfah dari tumbuhan budidaya dijadikan pilihan pertama sebagai sumber genetik. Karena berdasarkan beliau, di dalam plasma nutfah tumbuhan budidaya, terkandung bermacam-macam gen laten yang mempunyai kegunaan untuk kegiatan pemuliaan tanaman, termasuk tahan kekeringan. Dari segi pemuliaan, penggunaan sumber gen yang berkerabat erat lebih memungkinkan untuk berhasil dibanding bila memakai sumber yang sangat asing.
Dari segi agronomi, pandangan keliru lainnya ialah banyak tanaman, banyak hasil. Ini mungkin mirip dengan pandang “banyak anak, banyak rezeki”. Implikasi jelek dari pandangan ini ialah petani menanam padi dengan jarak tanam yang sangat rapat, ditambah lagi sangat banyak tumbuhan dalam satu lubang tanam. Sebagai ilustrasi, ada petani yang menanam padi dengan jarak 10 cm x 10 cm dan dalam satu lubang tanam berisi 6 tanaman. Bila dihitung, maka satu hektar sawah berisi 6 juta batang padi, yang juga berasal dari 6 juta butir benih padi. Jumlah ini sebanding dengan 150 kg benih padi dengan perkiraan 1000 butir padi sama dengan 25 g. Padahal, secara agronomi, padi sanggup ditanam dengan jarak 25 cm x 25 cm (Thakur, 2010) atau serapat-rapatnya 20 cm x 20 cm dan dalam satu lubang cukup satu tumbuhan saja, sebagaimana pada metode SRI (Thakur et al. 2010). Dengan cara ini, maka satu hektar hanya berisi 160 ribu atau 250 ribu batang saja, yang bila dikonversi ke biji menjadi setara 4,0 kg atau 6,25 kg benih saja. Coba lihat betapa tidak efisiennya petani kita yang menabur benih padi sebanyak 150 kg dari yang seharusnya cukup 4 – 6,25 kg saja untuk satu hektar sawah. Ini gres dilihat dari kebutuhan benih, belum lagi dari segi tenaga kerja dan waktu yang terbuang percuma. Ini sungguh sangat boros dan tidak irit sama sekali.
Anggapan lain yang sama buruknya ialah semakin banyak air yang diberikan, semakin banyak hasil padi. Akibatnya, pemakaian air sangat boros per satuan luas sawah, berikutnya jumlah sawah yang sanggup diairi menjadi lebih sempit dari yang seharusnya. Padahal, bahwasanya padi bukanlah murni tumbuhan air, lantaran kenyataannya padi memang sanggup juga hidup dan berproduksi tinggi pada lahan darat. Dengan demikian, air bukanlah faktor mutlak melainkan sebagai faktor pendukung. Selain itu, hasil penelitian memperlihatkan bahwa kesehatan tanah sawah tempat padi di tanam lebih baik bila tidak digenangi terus menerus (Hanafiah et al., 2009). Dengan demikian, bahwasanya padi tidak memerlukan terlalu banyak air mirip yang disangkakan dan justru akan lebih produktif bila air diberikan secara macak dan terputus-putus. Menurut Prisilla et al. (2012), santunan air irigasi dengan debit yang berubah-ubah sangat penting bukan saja untuk perbaikan sistem irigasi, tetapi juga untuk melindungi sumber air bagi masa depan.
Pemikiran jelek lainnya ialah banyak pupuk, banyak hasil. Pemeo ini bahwasanya tidak produktif dan bahkan sangat merusak lingkungan. Petani kita adakala sudah keterlaluan dalam memakai pupuk, terutama pupuk anorganik. Penulis sendiri pernah menyaksikan sendiri bagaimana mereka memperlihatkan pupuk pada lahan sawahnya, lantaran tempat tinggal penulis berkebetulan erat dengan persawahan. Barangkali petani tidak pernah menghitung pemakaian pupuknya, tetapi bila kita hitung, sanggup jadi pupuk yang digunakan sanggup mencapai dua kali lipat dari yang dianjurkan. Bisa jadi pula takaran tawaran pun sudah terlalu banyak, lantaran belum ada kajian yang mendalam bahwasanya berapa takaran yang kondusif untuk produktivitas padi sekaligus kesehatan tanah sawah untuk mendukung perpadian dan persawahan yang berkelanjutan. Menurut Cummings dan Orr (2010) kendatipun aplikasi pupuk N anorganik telah memperlihatkan laba yang aktual pada produksi pangan dan ketahanan pangan dunia dalam jangka pendek, namun ada keprihatinan yang meluas terhadap keberlanjutan penggunaan teknologi ini untuk jangka panjang biar sanggup terus memberi makan seluruh populasi dunia yang terus meningkat. Penggunaan pupuk N anorganik secara terus menerus akan menimbulkan perusakan tanah pertanian, antara lain sebagai akhir dari hilangnya materi organik, pemadatan tanah, peningkatan salinitas, dan pembersihan nitrat anorganik.
Bahan organik tidak berfaedah ialah kesalahan lain. Sumber materi organik tidak dimanfaatkan. Jerami padi tidak dikembalikan ke sawah, melainkan diangkut bersama malai yang dipanen, bahkan sebagiannya lagi dibakar. Barangkali ada kemalasan ikut terlibat di sini. Pernah suatu ketika, penulis berdialog dengan seorang petani padi wacana pemanfaatan jerami sebagai sumber pupuk organik untuk pertanaman padinya. Pertanyaan penulis ialah mengapa petani selalu mengkremasi jerami sehabis panen berakhir. Jawabannya cukup sederhana, lantaran jerami-jerami itu mengganggu jalannya traktor mesin pengolah lahan nantinya. Sebagai catatan, petani memang selalu menumpuk jerami padi di pematang atau di tengah sawah. Tumpukan itulah yang dimaksud mengganggu tadi dan dengan membakarnya tumpukan tersebut eksklusif hilang dalam semalam. Padahal dengan sedikit rajin, penyerakan jerami ke permukaan lahan sawah sanggup juga segera menghilangkan tumpukan yang mengganggu tadi, tanpa harus membakarnya. Membakar jerami sama artinya menghilangkan sumber materi organik dan yang tersisa hanya bubuk dengan sedikit materi mineral. Menyerakkan jerami sama artinya dengan memperlihatkan sumber materi organik ke dalam tanah, yang sangat berarti bagi kesuburan dan kesehatan tanah, berikut tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Lalu, apa gunanya materi organik pada tanah?. Funderbug (2001) menyatakan bahwa materi organik mempunyai kegunaan sebagai suplai unsur hara, kapasitas menahan air, agregasi struktrur tanah, dan pencegah erosi. Lebih jauh lagi, bahwasanya materi organik dalam tanah sanggup berfungsi mirip magis, mediator, atau penyangga dari kondisi ekstrem di dalam tanah. Menurut CSIRO (2011) materi organik merupakan indikator kunci akan kesehatan tanah dan memainkan kiprah penting pada sejumlah fungsi, mirip biologi, kimia, dan fisik.
Lain jerami, lain lagi pupuk kandang. Bagi sebagian petani padi, pupuk sangkar menjadi pantang diberikan pada sawah. Ada anggapan, pupuk sangkar yang berupa kotoran ternak merupakan sumber penyakit bagi tumbuhan padinya. Kesalahan persepsi ini sanggup jadi disebabkan oleh salah tindak pada pupuk ini. Waktu santunan yang tidak sempurna mungkin saja penyebab utamanya atau ada pengalaman jelek lain bersama dengan penggunaan pupuk ini. Akibatnya jarang sekali petani padi memupuk tanamannya dengan pupuk kandang. Sebenarnya, pupuk sangkar sangat baik diberikan kepada tumbuhan padi dan kebaikannya sama mirip pada tumbuhan lainnya. Pupuk sangkar banyak mengandung materi organik, mikroorganisme, dan juga materi anorganik. Menurut Rusmarkam dan Yowono (2002) pupuk sangkar sebagai salah satu sumber materi organik sanggup memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya menahan air, meningkatkan kapasitas tukar kation, memperbaiki kehidupan biologi tanah, dan juga meningkatkan daya sangga tanah. Namun demikian, perlu juga dipahami bahwa pupuk sangkar juga mempunyai sifat yang kurang baik, antara lain mempunyai rasio C/N tinggi dalam keadaan basah/mentah. Oleh karenanya, disarankan tidak memberi pupuk sangkar dalam keadaan masih mentah pada lahan sawah. Jika pun diberikan mentah hendaknya jauh hari sebelum penanam padi dilakukan.
Yang tidak kalah kelirunya juga ada pada pengendalian hama dan penyakit padi. Menyemprotkan pestisida, terutama insektisida mirip sudah merupakan keharusan pada pertanaman padinya. Ada tidaknya hama dan penyakit di pertanaman padi di sawah tidak menjadi soal yang penting. Akibatnya, residu pestisida di sawah terus terakumulasi. Tidak hanya mencemari tanah sawah saja, air dan sumber air pun ikut tercemar. Banyak mikroorganisme dan makroorganisme yang mempunyai kegunaan ikut mati terbunuh oleh pestisida, sehingga kesehatan tanah sawah terus menurun dari tahun ke tahun. Menurut Supardi (2003) pestisida mirip DDT, aldrin, endrin, dan fosfor organik bila mencemari tanah pertanian akan merugikan alasannya ialah senyawa tersebut sanggup membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi tanah untuk proses dekomposisi dan sintesis senyawa organik dan anorganik. Bila penggunaannya tidak terkontrol, insektisida sanggup juga menimbulkan pencemaran lingkungan, mirip air minum, merugikan kesehatan, dan juga menimbulkan terjadinya resistensi terhadap senyawa tersebut. Selain itu, insektisida ada juga yang bersifat karsinogenik, yaitu senyawa yang sanggup menimbulkan terjadinya kanker dan tumor ganas.
Sebenarnya, daftar keliru dari prilaku petani masih sanggup ditambah lagi. Namun, kita cukupkan dulu di sini. Barangkali lebih baik bagi kita untuk mencoba mengambil pelajaran daripadanya. Kita berharap apa yang penulis paparkan di atas hanyalah sekadar akhir ketidaktahuan atau kekurangpahaman para petani saja, bukan merupakan pecahan dari budaya bangsa kita. Mengapa demikian, lantaran berdasarkan Ashley Montagu dalam Suriasumantri (1999), kebudayaan mencerminkan tanggapan insan terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Bisa dibayangkan betapa buruknya rupa masyarakat petani padi kita, bila kebutuhan dasarnya banyak yang keliru.
Muhammad Hatta
DAFRTAR PUSTAKA
Bakhtiar, A. 2011. Filsafat Ilmu. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta. 266 hlm.
0 Response to "Artikel Wacana Filsafat Padi"
Post a Comment