Cara Budidaya Gambas Atau Oyong
Tuesday, May 7, 2019
Add Comment
Gambas atau oyong atau emes (Luffa acutangula, suku labu-labuan atau Cucurbitaceae), yaitu komoditi sayuran minor. Penanamannya biasanya dilakukan di pekarangan atau penggalan ladang yang tidak dipakai untuk flora lain. Gambas dipanen buahnya ketika masih muda dan diolah sebagai sayur. Gambas atau oyong atau emesmasih sekerabat dengan belustru (Luffa aegyptica).
Tanaman ini termasuk dalam famili Cucurbitaceae, berasal dari India, namun telah mengikuti keadaan dengan baik di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bagian yang sanggup dimakan dari flora ini yaitu buah muda, kegunaan lainnya antara lain serat bunga karangnya (bagian dalam buah tua) dipakai untuk sabut, daunnya dipakai untuk lalab atau sanggup juga dipakai untuk obat bagi penderita demam.
Syarat Tumbuh
Tanaman oyong merupakan flora setahun dan tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, sanggup ditanam di sawah atau di tegalan. Tanaman ini termasuk flora memanjat/merambat. Tanaman oyong membutuhkan iklim kering, dengan ketersediaan air yang cukup sepanjang musim. Lingkungan tumbuh yang ideal bagi flora oyong yaitu di tempat yang bersuhu 18-24°C, dan kelembaban 50-60%.
Tanaman oyong toleran terhadap banyak sekali jenis tanah, hampir semua jenis tanah cocok ditanami oyong. Untuk mendapat hasil yang optimal, flora ini membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, beraerasi dan berdrainase baik, serta memiliki pH 5,5-6,8. Tanah yang paling ideal bagi budidaya oyong yaitu jenis tanah liat berpasir, contohnya tanah latosol, aluvial, dan podsolik merah kuning (PMK).
Varietas
Varietas yang dianjurkan yaitu San-C, Ping-Ann, Miriam, san-C No. 2 (asal Known You Seed, Taiwan), dan Samson. Kebutuhan benih tiap hektar berkisar 5-10 kg.
Pembuatan Benih
Untuk memproduksi benih sendiri sanggup dilakukan dengan melaksanakan panen oyong kurang lebih 110 hari sesudah semai (di dataran tinggi) ditandai dengan buah yang telah berwarna coklat, kering, dan bijinya berwarna hitam. Buah dipotong melintang, bijinya dikeluarkan, dibungkus kertas dan dikeringkan hingga kadar air 8%. Biji disimpan dalam stoples yang tertutup rapat yang telah diisi desikan berupa arang atau bubuk sekam.
Persemaian
Oyong diperbanyak dengan biji. Benih oyong sanggup ditanam pribadi di lapangan dengan memakai para-para atau teralis untuk tempat merambatnya sulur. Apabila rambatan belum siap dan persediaan benih terbatas, benih sanggup disemaikan dulu memakai kantung plastik hitam yang berdiameter 5 cm yang diisi 2 benih/kantung. Media yang dipakai untuk persemaian berupa media pupuk sangkar dicampur dengan tanah dengan perbandingan 1:1. Bibit sanggup dipindah ke lapangan pada umur 15-21 hari atau sesudah berdaun 3-5 helai.
Pengolahan Tanah
Sistem lubang tanam
Tanah dicangkul hingga gembur. Kemudian dibentuk lubang tanam dengan ukuran 200 cm x 60 cm atau 200 cm x 100 cm. Masukkan pupuk sangkar 1-2 kg/lubang tanam.
Sistem bedengan
Tanah dicangkul hingga gembur, kemudian dibentuk bedengan dengan ukuran lebar 260 cm, panjang diadaptasi dengan keadaan lahan, tinggi ±30 cm, dan jarak antar bedengan ± 60 cm. Lubang tanam dibentuk dengan ukuran 200 x 60 cm atau 200 x 100 cm kemudian masukkan pupuk sangkar 1-2 kg/lubang tanam.
Sistem guludan
Tanah dicangkul hingga gembur, buat guludan selebar 60 cm, tinggi 30 cm, dan panjang diadaptasi dengan keadaan lahan dengan jarak antar guludan ± 140 cm, kemudian masukkan pupuk sangkar 1-2 kg/lubang tanam.
Penanaman dan pemupukan
Benih ditanam secara pribadi atau melalui pesemaian. Bila ditanam secara langsung, masukkan biji oyong sebanyak 2-3 butir tiap lubang tanam, kemudian tutup dengan tanah setebal 1-1,5 cm.
Selama satu animo tanam, dilakukan pemupukan dengan pupuk buatan NPK (16:16:16) 300 kg + Urea 100 kg per hektar. Pemupukan dilakukan pada ketika tanam, 2, 4, 6 dan 8 ahad sesudah tanam dengan takaran masing–masing seperlima takaran dari total takaran yang dianjurkan.
Pemasangan rambatan atau para–para dilakukan ketika flora berumur 10-15 hari sesudah tanam. Para–para sanggup berbentuk abjad A, setengah lengkung, lengkungan atau persegi panjang.
Pemeliharaan
Pemeliharaan flora oyong yang biasa dilakukan yaitu pemangkasan daun, apabila daun terlalu rimbun, penyiraman dan penyiangan.
Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
OPT penting yang menyerang flora oyong antara lain kumbang daun, ulat grayak, ulat tanah, lalat buah, anyir daun, embun tepung, antraknos, layu kuman dan virus mosaik. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Bila harus memakai pestisida, gunakan pestisida yang relatif kondusif sesuai rekomendasi dan penggunaan pestisida hendaknya sempurna dalam pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu aplikasi, interval aplikasi serta cara aplikasinya.
Panen dan Pascapanen
Pemanenan oyong sanggup dilakukan berulang-ulang. Panen pertama dilakukan pada ketika flora berumur 40-70 hari sesudah tanam. Ciri-ciri umum buah oyong yang siap dipanen antara lain yaitu buah berukuran maksimum, tidak terlalu tua, belum berserat, dan gampang dipatahkan. Produksi oyong setiap flora mencapai 15-20 buah dan 8-12 ton per hektar.
Buah oyong gampang rusak sehingga pengemasan yang baik sangat diharapkan untuk memperpanjang daya simpan, terutama bila untuk pengiriman jarak jauh. Pada suhu 12-160C, buah oyong sanggup disimpan hingga 2-3 minggu.

0 Response to "Cara Budidaya Gambas Atau Oyong"
Post a Comment