Cara Pemijahan Lele Sangkuriang Buatan
Sunday, May 12, 2019
Add Comment

Cara Pemijahan Lele Sangkuriang Buatan
Dalam perjuangan budidaya atau beternak lele, proses pemijahan yakni proses penting untuk menghasilkan bibit lele yang baik. Proses pemijahan lele sekarang telah berkembang dengan cara pemijahan lele secara buatan (Induced Breeding). Berikut yakni proses dalam pemijahan buatan pada lele sangkuriang.
Pemilihan Indukan
Umur induk betina lele sangkuriang siap dipijahkan berumur > 1 tahun, massa (0,7 – 1) kg dengan panjang standar (25 – 30) cm, sedangkan induk jantan antara lain yaitu berumur > 1 tahun, massa (0,5 – 0,75) kg, dengan panjang standar (30 – 35) cm. Induk betina yang sudah matang gonad, secara fisik ditandai dengan perut yang membesar dan lembek, tonjolan alat kelamin membulat dengan warna merah keungu-unguan dan tampak membesar, bila dilihat secara kasat mata warna telur terlihat hijau bau tanah bening atau coklat kehijau-hijauan, tulang kepala agak meruncing, gerakannya lamban. Sedangkan induk jantan ditandai dengan warna tubuh yang lebih mencolok dari betina yaitu terlihat kemerah-merahan pada bab sirip punggung (dorsal), dengan bentuk genital yang meruncing dan memanjang melebihi ujung sirip anal yang letaknya berdekatan dengan anus, tulang kepala lebih mendatar (pipih) dibanding induk betina, perut tetap ramping dan gerakannya yang lincah. Jika diurut secara perlahan pada bab kelaminnya, akan mengeluarkan cairan putih susu yang kental, cairan itulah yang dinamakan sperma.

Lele sangkuriang mulai sanggup dijadikan induk pada umur (8 – 9) bulan dengan massa minimal 500 gram. Telur akan menetas dalam tempo 24 jam sesudah memijah dengan kemampuan memijah sepanjang tahun tanpa mengenal musim. Tanda-tanda induk jantan yang telah siap memijah diantaranya alat kelamin tampak terang (meruncing), perutnya tampak ramping, kalau perut diurut akan keluar spermanya, tulang kepala agak mendatar dibanding dengan betinanya, kalau warna dasar badannya hitam (gelap), warna itu menjadi lebih gelap lagi dari biasanya. Sedangkan untuk induk betina alat kelaminnya bentuknya lingkaran dan kemerahan, lubangnya agak membesar, tulang kepala agak cembung, gerakannya lamban, warna badannya lebih cerah dari biasanya.
Penyuntikan Hormon
Pemijahan buatan memakai induk jantan dan betina dengan perbandingan 1 : 3 (1 induk jantan, 3 induk betina). Pemijahan buatan dilakukan dengan penyuntikan hormon perangsang (ovaprim) yang bertujuan untuk mempercepat proses ovulasi pada induk betina. Dosis hormon ovaprim yang dipakai yakni 0,2 ml/kg induk ikan yang diencerkan dengan menambahkan larutan Sodium Chloride 0,9% untuk seluruh jumlah induk ikan. Metode pemijahan dengan cara induce breeding. bila memakai ovaprim dosisnya 0,3 ml/kg induk; streeping, induk jantan dan induk betina pada pemijahan ini harus dipisahkan. Setelah (10-12) jam dari penyuntikan, induk betina siap di-streeping.

Waktu antara penyuntikan dengan ovulasi yaitu (10 – 12) jam tergantung suhu inkubasi induk (suhu selama praktek 23 derajat Celcius). Penyuntikan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB sehingga proses pengeluaran telur (streeping) sanggup dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB hal ini bertujuan biar hasil streeping yang dihasilkan sanggup maksimal, alasannya yakni suhu air pada pagi hari relatif stabil sehingga tingkat stress yang ditimbulkan pada induk relatif kecil dan untuk mempermudah mengamati ovulasi. Penyuntikan dilakukan 1 kali secara intramuskular, yaitu penyuntikan pada bab otot punggung induk lele sangkuriang.
Streeping dan Pembuahan
Pada selang waktu (10–12) jam sesudah penyuntikan dilakukan investigasi terhadap induk betina dan dinyatakan ovulasi. Setelah itu, segera dilakukan penyediaan cairan sperma. Penyediaan cairan sperma dilakukan dengan pengambilan kantong sperma dengan jalan pembenahan. Induk jantan dibedah dengan memakai gunting dari arah genital ke arah kepala, kemudian kantong sperma diambil dan dibersihkan dengan memakai kertas tissu. Sperma dikeluarkan dengan cara menggunting kantong sperma pada bab sisinya, kemudian diperas dan diencerkan dengan memakai larutan Sodium Chloride 0,9%. Perbandingan yang dipakai yaitu 250 ml Sodium Chloride 0,9% untuk sperma yang berasal dari 1 ekor induk jantan.
Setelah larutan sperma siap, dilakukan pengeluaran telur dengan cara pengurutan. Pada bab kepala dipegang dengan memakai kain lap biar tidak licin, kemudian bab perut diurut dari dada ke arah genital secara perlahan-lahan (Streeping). Telur yang keluar ditampung dalam wadah plastik yang higienis dan kering.
Sperma yang telah tersedia dicampurkan dengan telur dan diaduk memakai bulu ayam. Setelah teraduk merata tuangkan air secukupnya kemudian digoyang-goyangkan lagi secara perlahan. Pemberian air dibutuhkan untuk mengaktifkan sperma alasannya yakni ketika dalam larutan fisiologis sperma belum aktif, membuka mikrofil pada telur ikan, dan untuk membersihkan telur dari sisa-sisa sperma yang tidak aktif/mati.
Ovulasi yakni puncak dari kematangan gonad, dimana telur yang telah masak harus dikeluarkan dengan cara dipijit pada bab perut (streeping). Induk jantan diambil spermanya melalui pembedahan. Pencampuran telur dan sperma dilakukan dengan memakai bulu ayam hingga sperma dan telur tercampur merata. Untuk meningkatkan pembuahan, maka telur dan sperma sanggup ditambahkan dengan garam dapur sebanyak 4000 ppm sambil diaduk dan ditambahkan air sedikit demi sedikit. Setelah tercampur kemudian dilakukan pembersihan dengan penggantian air sebanyak (2-3) kali. Telur yang dibuahi akan mengalami pengembangan dengan ukuran telur yang terlihat lebih besar dan berwarna hijau tua, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih.
Penetasan Telur
Penetasan telur dilakukan pada hapa berukuran (2x1x0,2) m yang dipasang pada kolam persegi panjang berukuran (4x2x0,8) m yang sebelumnya telah diisi air setinggi 50 cm. Kemudian hapa diberi pemberat berupa besi behel ukuran 5 mm, berbentuk persegi panjang ibarat dasar hapa. Hapa penetasan dialiri air secara terus menerus dengan debit air 40 ml/detik, selain itu juga kolam penetasan diberi aerasi sebagai penyuplai oksigen.
Sebelum telur ditebar, terlebih dahulu dilakukan pembersihan telur dari sisa sperma. Telur ditebar secara merata di dalam 4 hapa dengan padat tebar sekitar 156.818 butir/hapa dan menetas sekitar (30–36) jam sesudah pembuahan pada suhu (23–24) derajat Celcius.
Bersumber dari livebeta.kaskus.us
0 Response to "Cara Pemijahan Lele Sangkuriang Buatan"
Post a Comment