Hama Dan Penyakit Pada Flora Buncis

Hama dan Penyakit Pada Tanaman Buncis


BUDIDAYA tumbuhan buncis ti(Phaseolus vulgaris L.) tidaklah terlalu sulit dan perlakuannya sama dengan tumbuhan sayuran lain. Kecuali untuk jenis kacang buncis tertentu harus diberi lanjaran lantaran tanamannya merambat.Hal yang penting bahwa ‘usahatani, budidaya tumbuhan buncis secara intensif sangat menguntungkan, lantaran konsumennya yang cukup banyak,sehingga pasarnya cukup terbuka lebar baik di dalam maupun luar negeri.

Namun ternyata,tanaman buncis cukup rentan terhadap serangan hama maupun penyakit, sehingga perlu diwaspadai oleh para petani yang tengah melaksanakan budidaya komoditi sayuran ini.Adapun beberapa hamadan penyakit yang umumnya menyerang tumbuhan buncis antara lain:

HAMA

· Kumbang daun yang disebabkan oleh kumbangHenose-pilachna signatipennis atau Epilachna signatipennis, sering disebut kumbang daunepilachna yang termasuk famili Curculionadae. Bentuk tubuhnya oval, warna merah atau coklat kekuningan, panjang antara 6-8 mm. Untuk mengendalikannya yakni dengan cara: 1) bila sudah terlihat adanya telur, larva, maupun kumbangnya, maka sanggup pribadi dibunuh dengan tangan; 2) dengan pestisida organik (dengan adonan bw.putih, cabai rawit, jahe, jeruk, sambiloto) ; dan 3) rotasi tumbuhan dengan tumbuhan yang bukan inang.

Lalat kacang disebabkan oleh lalat Agromyza phaseoli yang termasuk dalam familiAgromyzidae. Lalat betina dan jantan memiliki ukuran yang berbeda. Lalat betina memiliki panjang badan kurang lebih 2,2 mm, sedang yang jantan hanya 1,9 mm. Gejala yang timbul pada tumbuhan buncis di antaranya daun berlubang-lubang dengan arah tertentu, yaitu dari tepi daun menuju tan

gkai atau tulang daun. Bahkan tanda-tanda lebih lanjut berupa pangkal batang yang membengkok atau pecah. Kemudian tumbuhan menjadi layu, berubah kuning, dan jadinya mati dalam umur yang masih muda. Apabila tidak mengalami kematian, maka tumbuhnya kerdil, sehingga produksinya sedikit. 
Adapun upaya pengendalian hendaknya dilakukan sedini mungkin yaitu pada dikala pengolahan tanah. Setelah biji-biji buncis ditanam sebaiknya lahan pribadi diberi epilog dari jerami daun pisang. Penanaman dilakukan secara serentak. Bila tumbuhan sudah terjangkit secara berat, maka segeralah dicabut dan dibakar atau dipendam dalam tanah. Namun, apabila serangan masih kecil, disarankan semoga menggunakan pestisida organik (dengan adonan bw.putih, cabai rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto). Penyemprotan dilakukan sebanyak 2-3 kali hingga umur 20 hari,atau tergantung berat ringan serangan.

· Penggerek daun yang disebabkan oleh ulatEtiella zinckenella yang termasuk dalam familiPyralidae. Penyebarannya mencakup kawasan tropis dan subtropis. Gejala yang ditimbulkannya yakni polong yang masih muda mengalami kerusakan, bijinya banyak yang keropos. Kerusakkan ini tidak hingga mematikan tumbuhan buncis.Pengendalian terhadap hama ini antara lain; penyemprotan dengan pestisida organik (yang dicampur dengan bw.putih, cabai rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto) . Waktu penyemprotan dilakukan segera sesudah diketahui adanya serangan dan sanggup diulangi beberapa kali berdasarkan keperluan.

· Ulat penggulung daun disebabkan kehadiran ulatLamprosema indicata dan L. diemenalis, keduanya termasuk dalam famili Pyralidae. Gejalanya: daun kelihatan menyerupai menggulung dan terdapat ulat yang dilindungi oleh benang-benang sutra dan kotoran. Polongan sering pula ikut direkatkan bahu-membahu dengan daunnya. Daun juga tampak berlubang-lubang bekas gigitan dari tepi hingga ketulang utama, hingga habis hanya tinggal urat-uratnya saja. Pengendalian: (1) membuang dan aben daun yang telah terkangkit; (2) penyempro tan pestisida oraganik ( adonan bw.putih, cabai rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica,dan sambiloto). Penyemprotan sanggup di ulang setiap 7 hari hingga tumbuhan terbebas dari hama tersebut.

· Kutu daun ini disebabkan oleh Aphis gossypii, yang termasuk dalam famili Aphididae. Sifatnya polibag dan kosmopolitan yaitu sanggup memakan segala tumbuhan dan tersebar di seluruh dunia. Tanaman inangnya bermacam-macam, antara lain kapas, semangka, kentang, cabai, terung, bunga sepatu dan jeruk. Warna kutu ini hijau renta hingga hitam atau kuning coklat.Adapun tanda-tanda seranganhama : pertumbuhan tumbuhan menjadi kerdil dan batang memutar (memilin), daun menjadi keriting dan berwarna kuning. 
Untuk mengendalikan hama ini yang harus dilakukan antara lain: (1) secara alami, yaitu dengan cara memasukkan musuh alaminya, antara lain lembing, lalat dan jenis Coccinellidae; (2) menggunakan pestisida organik (dengan adonan bw.putih, bw.merah, cabai rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, sambiloto).Bila sesudah disemprotkan masih terdapat hamanya, maka penyemprotannya sanggup diulang setiap 7-14 hari sekali.

· Ulat jengkal semu tiada lain disebabkan oleh ulat jengkal semu.Ada dua dua spesies yang terdapat diperkebunan buncis, yaitu Plusia signata(Phytometra signata) dan P. chalcites. Keduanya termasuk kedalam famili Plusiidae. Panjang ulat P. chalcites kurang lebih 2 cm berwarna hijau dengan garis samping berwarna lebih muda. Gejala yang timbul antara lain: daun-daun berlubang,tanaman menjadi kerdil. 
Pengendalian yang sanggup dilakukan: (1) secara mekanik, yaitu dibunuh satu persatu, namun tidak efektif; (2) sanitasi, yaitu dengan membersihkan gulma-gulma yang sanggup dijadikan sebagai tempat persembunyian hama tersebut; (3) dengan pestisida organik(campuran bawang putih, cabai rawit, daun/niji nimba, daun tomat, merica, dansambiloto) dengan takaran di perbesar.

PENYAKIT

· Penyakit Antraknosa yang oleh cendawanColletotrichum lindemuthianum, termasuk dalam famili Melanconiaccae.. Gejala adanya serangan penyakit ini adalah: terdapat bercak-bercak kecil berwarna coklat karat pada polong buncis muda dan bercak hitam atau coklat renta di kepingan batang tumbuhan tua. Untuk mengendalikannya: menggunakan benih yang benar-benar bebas dari penyakit; pergiliran tanaman, maksudnya untuk memotong siklus hidup cendawan tersebut. Pergiliran tersebut sanggup dengan tumbuhan lobak, wortel atau kol bunga; danpenyemprotan pestisida organik.

· Penyakit bercak daun ini biasanya disebabkan oleh kehadiran cendawan Cercospora canescens, termasuk dalam famili Dematiaceae. Sporanya sanggup disebarkan melalui air hujan, angin, serangga, alat-alat pertanian, insan dan lain-lain. Gejala yang timbul akhir serangan penyakit ini yakni daun berbercak-bercak kecil berwarna cokelat kekuningan. Lama-kelamaan bercak akan melebar dan kepingan tepinya terdapat pita berwarna kuning. Akibat lebih parah, daun menjadi layu kemudian berguguran. Bila hingga menyerang polong, maka polong berbercak kelabu serta biji yang terbentuk kurang padat dan ringan. 
Sementara itu,untuk mengendalikannya dengan cara sbb: sebelum ditanam benih buncis direndam air panas dengan suhu 48 derajat C selama 30 menit, rotasi tanaman, rotasi tanaman, memotong bagaian tumbuhan yang telah terserang,dan penyemprotan dengan pestisida organik. Penyemprotan diulang dengan selang waktu 5-15 hari semoga lebih efektif.

· Penyakit embun tepung disebabkan oleh cendawan Erysiphe polygoni, yang termasuk dalam famili Erysiphaceae. Gejala tumbuhan buncis yang terjangkit penyakit ini : daun, batang, bunga dan buah berwarna putih keabuan (seperti beludru). Apabila serangan pada bunga ringan, maka polong masih sanggup terbentuk. Namun bila gagal serangannya berat akan sanggup menggagalkan proses pembuahan, bunga menjadi kering dan jadinya mati. Bila polong yang diserang maka polong tidak gugur, tetapi akan meninggalkan bekas berwarna cokelat surat sehingga kualitasnya menurun. 
Dalam upaya mengendalikan penyakit ini yang harus dilakukan petani yakni: bagian-bagian yang sudah terjangkit sebaiknya dipotong atau dibakar,dan sanggup juga disemprot dengan pstisida organik. Atau sanggup juga dilakukan penghembusasn dengan tepung belerang.

· Penyakit ujung keriting disebabkan kehadiranvirus mosaik keriting, yang penularannya biasanya melalui vektor serangga yaitu sejenis kutu loncat dari famili Yassidae. Dari tingkat muda hingga dewasa, kutu ini sanggup menjadi pembawa (carrier) virus tersebut. Pada umumnya,serangan penyakit ini mengakibatkan tanda-tanda berupa daun-daun muda menjadi keriting dan berwarna kuning, sedangkan daun yang sudah renta menggulung atau memilin. Biasanya daun-daun terasa lebih kaku, tangkai daun mengeriting ke bawah dan batang tidak normal. Tanaman muda yang terjangkit menjadi kerdil. Pengendalian terhadap penyakit ini yang harus dilakukan petani yakni menanam bibit yang tahan penyakit menyerupai spurt dan strike,mencabut dan aben tumbuhan yang telah terjangkit penyakit,dan melaksanakan penyemprotan pestisida organik

· Penyakit hawar daun ini disebabkan adanyabakteri Xanthomonas campestris dari familiPseudomonadaceae. Bakteri ini sanggup berkembang pada suhu lebih dari 20 derajat C dan suhu optimum 30 derajat C. Hidupnya sanggup bertahan beberapa tahun di dalam biji, tanah dan sisa-sisa tumbuhan yang sakit. Tanaman buncis yang terjangkit penyakit ini biasanya akan terlihat bercak kuning di kepingan tepi daun, kemudian meluas menuju tulang daun tengah. Daun terlihat layu, kering dan berwarna cokelat kekuningan. Bila serangannya hebat, daun berwarna kuning seluruhnya dan jadinya rontok. Kemudian tanda-tanda tersebut sanggup meluas ke batang, sehingga lama-kelamaan tumbuhan akan mati. Pengendalian yang sanggup dilakukan yakni menggunakan benih yang bebas dari penyakit,dan selalu menjaga kebersihan lahan tumbuhan dari gulma dengan melaksanakan penyiangan.

· Penyakit busuk lunak umumnya disebabkan olehbakteri Erwinia carotopora, termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini hanya menyerang bila ada kepingan tumbuhan yang luka, misalnya,karena gigitan ulat atau memang sudah sakit akhir penyakit lain. Serangan ini sanggup terjadi di lapangan atau penyimpanan. 
Gejala serangan penyakit busuk lunak ini yakni daun berbercak, basah dan warnanya menjadi kecokelatan. Gejala ini akan cepat menjalar ke seluruh kepingan tumbuhan sehingga tumbuhan menjadi lunak, berlendir dan berbau busuk. Kadang-kadang juga sanggup roboh bila yang terjangkit batangnya.Dalam upaya mengendalikannya antara lain: aben dan membuang tumbuhan yang telah terjangkit penyakit; menjaga kebersihan lingkungan tanaman,dan penyemprotan dengan pestisida organik Penyemprotan sanggup dilakukan setiap 7-10 hari sekali. Penggunaan pestisida sanggup dengan dioleskan pada kepingan tumbuhan yang sakit sudah cukup efektif.

· Penyakit karat lantaran adanya cendawanUromyces appendiculatus, termasuk dalam ordoUredinales. Cendawan ini masih sanggup bertahan pada kepingan tumbuhan yang sakit walaupun iklimnya kering. Serangan akan kembali menghebat pada ekspresi dominan hujan. Penyebarannya sanggup melalui hembusan angin, percikan atau fatwa air, serangga maupun terbawa dalam pengangkutan bibit-bibit tumbuhan di kawasan lain.Adapun tanda-tanda yang timbul akhir serangan penyakit karat ini yakni: pada jaringan daun terdapat bintik-bintik kecil berwarna cokelat baik dipermukaan daun sebelah atas maupun bawah dan biasanya dikelilingi oleh jaringan khlorosis. Pada varietes yang tahan, gejalanya hanya berupa bintik-bintik cokelat saja. Pengendalian terhadap penyakit ini yang harus dilakukan sebagai berikut:menanam bibit buncis yang tahan terhadap penyakit karat, yaitu manoa wonder, mencabut dan aben tumbuhan yang telah terjangkit, menggunakan pestisida organic. Penyemprotan pestisida organik ini dilakukan bila intensitas serangan mencapai 10% dengan selang waktu 7 hari. Penyemprotan dengan pestisida organik efektif dan ramah lingkungan.

· Penyakit layu umumnya disebabkan oleh seranganbakteri Pseudomonas sollanacearum,termasuk dalam famili Pseudomonadeceae.Adapun tanda-tanda serangannya yakni tumbuhan akan terlihat layu, menguning dan kerdil. Bila batang tumbuhan yang terjangkit dipotong melintang, maka akan terlihat warna cokelat dan bila dipijit keluar lendir berwarna putih. Kadang-kadang warna cokelat ini sanggup hingga ke daun. Akar yang sakit juga berwarna cokelat. Pengendalian yang dilakukan antara lain : penyiraman tumbuhan dengan air yang bebas dari penyakit, dengan rotasi tumbuhan selama 2 tahun,dan penyemprotan dengan fungsida Agrept 20 WP dengan konsentrasi 0,5-1 gram/liter air. 
Selain itu, penyebab layu dengan tanda-tanda diatas disebabkan oleh cendawan Fusarium oxyporum, termasuk dalam famil Stilbellaceae. 
Sedangkan gejalanya yang terlihat menyerupai tanda-tanda 1 di atas dengan sedikit perbedaan. Perbedaannya yaitu bila batang yang terjangkit dipijit tidak mengeluarkan lendir.Untuk mengendalikannya dengan cara pengendalian hampir sama dengan cara pengendalian Pseudomonas. Untuk mengendalikan cendawan ini sanggup dipakai adonan jelatang, kapur, kelor,dan mulsa daun bambu (pestisi organik) ini disemprotkan pada semua batang merata.Ini dinilai cukup efektif.

· Penyakit damping off akhir adanya cendawanPhytium sp, termasuk dalam famili Phytiaceae. Penularannya sanggup melalui tanah maupun biji. Serangannya akan sangat jago bila suhu dan kelembaban udara cukup tinggi.Pada umumnya,serangan penyakit ini mengakibatkan tanda-tanda yakni kepingan batang yang terletak di bawah keping biji (hipokotil) berwarna putih pucat lantaran mengalami kerusakan klorofil. Akibatnya terjadi nekrosa secara cepat, jaringan yang berada di atas tanah menjadi mengkerut dan mengecil sehingga batang tidak berpengaruh lagi menyangga kotiledon dan kemudian tumbuhan menjadi roboh. 
Pengendalian terhadap penyakit ini cukup sederhana, yaitu menyiram tumbuhan dengan air yang bebas penyakit,dan menyemprotkan pestisida organik yang telah diadaptasi dengan kebutuhan.

Dengan mengetahui adanya serangan hama maupun penyakit sedini mungkin,maka dibutuhkan hasil produksi tumbuhan buncis pada dikala panen pun akan melimpah,sehingga memperlihatkan laba yang sangat besar.

Sebab,bila dalam pelaksanaan budidaya tumbuhan buncis sudah baik, artinya sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan budidaya secara intensif ,maka produksi perhektar sanggup mencapai 150 kwintal polong segar.Berapa laba yang bias dikantongi petani yang melaksanakan ‘usahatani’ budidaya tumbuhan buncis.

0 Response to "Hama Dan Penyakit Pada Flora Buncis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel