Melawan Hama Kopi Tanpa Pestisida

Syamsu merasa lega lantaran panen kopinya tahun ini selamat dari gempuran hama yang jenisnya cukup beragam
Keberhasilan Syamsu berawal dari konsultasinya dengan beberapa peneliti di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI), Jember. Syamsu mengeluh lantaran panen kopinya mengenaskan akhir serangan hama dengan tingkat produksi yang melorot tajam. Beberapa hama menyerupai hama embug, jamur akar, kutu hijau, kutu putih, penggerek buah kopi (PBKo), ramai-ramai mengeroyok tumbuhan kopinya.
Menurut Syamsu, hama embug dan jamur akar menyerang perakaran tumbuhan kopi dengan cara memakan akar sampai habis dan mengakibatkan maut bagi tanaman. Sedangkan hama kutu menyerang dompolan buah, bunga, pucuk-pucuk batang, serta daun.
Hama tersebut menghisap cairan pada potongan tumbuhan yang diserang sehingga buah dan batang jadi rontok. Sementara itu PBKo menyerang buah kopi dengan cara melobangi buah sampai membuatnya jadi kopong.
Efek Samping
Selama ini, Syamsu memakai banyak sekali jenis pestisida untuk mengendalikan aneka hama tersebut. Selain harganya mahal, ternyata pestisida menimbulkan banyak sekali imbas samping menyerupai mematikan tumbuhan lainnya. Di samping itu pestisida juga meninggalkan residu kimia yang menimbulkan kualitas kopi rendah.
Akibat serangan hama, secara kualitas dan kuantitas produksi kopi terang mengalami penurunan. “Tingkat serangan 60 persen akan mengakibatkan produksi kopi tinggal 30 persennya dengan kualitas yang jelek,” ujar Soekadar.
Oleh lantaran itu, penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) yang ramah lingkungan mendesak untuk diterapkan secara nasional. Setidaknya tiga laba sekaligus yang bisa didapatkan dengan sistem PHT yakni peningkatan produksi, peningkatan mutu, serta penurunan biaya produksi.
Sanitasi dan Nabati
Setiap jenis hama atau lebih dikenal dengan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) memerlukan pengendalian secara spesifik, tutur Soekadar. Untuk hama PBKo pengendaliannya dilakukan dengan cara sanitasi dan penggunaan atraktan nabati. Cara sanitasi dilakukan dengan cara petik bubuk, rampasan, dan lelesan untuk memutus siklus hidup hama.
Petik bubuk yakni dengan memanen buah kopi yang masak semenjak awal lantaran serangan PBKo. Sedangkan rampasan dan lelesan yakni memanen buah yang tertinggal di pohon serta yang jatuh dari pohon di tamat masa panen.
Buah-buah kopi tersebut direndam di air panas selama 10 menit untuk membunuh serangga hama di dalam buah. Hanya pengendalian dengan cara ini memerlukan tenaga kerja cukup banyak sehingga kurang efisien.
Cara lainnya dengan menyemprotkan jamur Beauveria bassiana pada hama PBKo. Atraktan nabati tersebut bisa mematikan hama dalam 3-4 hari sesudah penyemprotan. Hanya saja distributor pengendali hayati tersebut harus segera dikembangkan sebagai bioinsektisida biar petani gampang memperolehnya.
Berikutnya hama yang menyerang seluruh pusat produksi kopi Indonesia yakni nematoda benalu jenis Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis. Kedua jenis cacing tersebut menyerang akar-akar serabut yang masih muda sampai mengakibatkan tanda-tanda luka akar (lession).
Akibatnya akar akan membusuk, tumbuhan jadi kerdil, daun menguning, dan risikonya tumbuhan mati. Cacing tersebut sulit dikendalikan lantaran mempunyai tumbuhan inang yang cukup banyak (sekitar 200 jenis).
Hama tersebut bisa membentuk kista sehingga bisa bertahan di dalam tanah tumbuhan inang dalam waktu lama. Penyebarannya sangat gampang lantaran bisa terbawa oleh ajaran air, manusia, hewan, alat pertanian, bibit kopi, bahkan sepatu.
Pengendalian hama ini bisa dilakukan dengan memakai tumbuhan antagonis yang juga berfungsi sebagai tumbuhan rotasi. Jenis tumbuhan Tagetes patula dan rumput guatemala (Trypsacum laxum) cukup efektif menekan populasi hama.
Pengendalian populasi hama juga bisa dilakukan dengan penggunaan pupuk sangkar dan kulit kopi. Selain itu juga bisa dipakai ekstrak biji dan daun tumbuhan mimba (Azadirachta indica) sebagai atraktan nabati. Hanya, keefektifan penggunaannya perlu diuji lebih lanjut, ujar Soekadar.
Serangan Kutu Putih
Sementara itu, serangan kutu putih (Planococcus citri) yang mematuk dan mengisap kuncup bunga, bunga dan pentil buah kopi bisa menurunkan produksi sampai 50-75 persen. Hama ini bisa ditekan dengan cara menanam tumbuhan penaung kopi biar udara di kebun cukup lembab.
Dalam kondisi lembab, distributor hayati menyerupai P. citri dan jamur Emphusa fresenii akan bekerja optimal menekan hama. Selain itu populasi kutu bisa ditekan dengan memakai predator kutu loncat (Heteropsylla cubana) yaitu kumbang biru (Curinus coeruleus).
Hama lainnya yang juga sering menyerang tumbuhan kopi yakni penyakit karat daun yang disebabkan oleh Hemileia vastatrix. Serangan jenis hama ini bisa menghancurkan perkebunan sampai produksinya tinggal 25 persen saja.
Hama ini tidak hanya menyerang tumbuhan kopi di Indonesia namun sudah menjadi musuh petani kopi di seluruh dunia. Hama tersebut meninggalkan jejak berupa tanda-tanda bercak kuning jingga pada permukaan bawah daun. Akibatnya daun akan mulai berguguran sehingga produktivitas tumbuhan jadi rendah.
Pengendalian hama ini dilakukan dengan pengaturan pemangkasan daun, pemupukan, dan pemeliharaan secara tepat. Selain itu juga harus dikembangkan varietas kopi yang tahan terhadap penyakit ini. Menurut Soekadar bisa juga disemprotkan ekstrak daun cengkeh, kemangi, teh hitam, dan mimba untuk menghambat perkembangan jamur patogen itu.
0 Response to "Melawan Hama Kopi Tanpa Pestisida"
Post a Comment