Pestisida Skala Rumah Tangga
Monday, October 7, 2019
Add Comment
Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan materi kimia sintetis) yang dinilai mudah oleh para pencinta tumbuhan untuk mengobati tanamannya yang terjangkit hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. WHO mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000-2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya yaitu meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akhir tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah sanggup mengakibatkan racun bagi lingkungan, insan serta ternak.
Cukup tingginya ancaman dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong perjuangan untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang gampang terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang sanggup mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bacin yang kurang sedap ternyata sanggup mengusir hama untuk tidak bersarang di tumbuhan yang disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh alasannya yaitu itu jangan heran jikalau penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan menciptakan tumbuhan yang kita rawat tidak nyaman ditempati.
Bahan yang dipakai pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya menyerupai tumbuhan bunga kenikir yang masih sanggup di temui ditanah-tanah kosong pada tempat yang cukup tinggi. Jenis lain yang dipakai pun harus sesuai dengan abjad dari materi yang akan dipakai serta abjad dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal materi dan jenis hama maka tak sanggup mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya yaitu kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.
Dosis yang dipakai pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan takaran yang digunakan, sanggup dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu ketika takaran yang dipakai tidak memiliki pengaruh, sanggup ditingkatkan sampai terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif kondusif dalam takaran tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tumbuhan sangat jarang ditemukan tumbuhan mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, menyerupai tumbuhan yang menyukai media kering, alasannya yaitu terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya yaitu aplikasi dengan takaran yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.
Selain harus mengenal abjad dari materi yang akan digunakan, abjad hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari isu abjad hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita sanggup mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel berpengaruh di batang atau daun sanggup diatasi dengan memakai adonan sedikit minyak biar kutu tidak sanggup menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan anggun pada tanaman, sanggup disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit menyerupai daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.
Berikut beberapa tumpuan hama dan pestisida alaminya:
1. Kutu Putih pada daun atau batang. Dapat dipakai bawang putih yang ditumbuk dan diperas airnya serta dicampurkan dengan air sesuai takaran yang diperlukan. Jika kutu menempel bersahabat pada tanaman, sanggup dipakai adonan sedikit minyak kelapa. Semprotkan adonan tersebut pada tumbuhan yang terjangkit hama.
2. Untuk Tikus. Buah jengkol sanggup ditebarkan di sekitar tumbuhan atau di depan lubang sarang tikus. Atau dengan merendam irisan jengkol pada air selama 2 hari. Lalu semprotkan pada tumbuhan padi yang belum berisi akan menekan serangan walang sangit.
3. Berbagai serangga. Air rebusan cabe rawit yang telah hirau taacuh dan dicampur dengan air lagi serta disemprotkan ke tumbuhan akan mengusir banyak sekali jenis serangga perusak tanaman.
4. Aphids. Air rebusan dari adonan tembakau dan teh sanggup mengendalikan aphid pada tumbuhan sayuran dan kacang-kacangan. Air hasil rebusan di campurkan kembali dengan air sehingga lebih encer.
5. Berbagai serangga. Air rebusan daun kemangi atau daun pepaya yang kering ataupun yang masih segar, sanggup disemprotkan ke tumbuhan untuk mengendalikan banyak sekali jenis serangga.
6. Nematoda akar. Dengan memakai bunga kenikir (Bunga Tai Kotok) yang direndamkan oleh air panas mendidih. Biarkan semalam kemudian saring. Hasil saringan tersebut disiramkan ke media tanaman. Penting diperhatikan media yang dipakai gampang dilalui oleh air.
7. Mengendalikan serangga, nematoda dan jamur. Dengan menciptakan air hasil rendaman tumbukan biji nimba dengan air selama tiga hari. Lalu siram pada tanaman, umumnya efektif pada tumbuhan sayuran.
Banyak resep yang sanggup ditemukan dari pengalaman. Selain itu, perhatikan teknis ketika memperlihatkan pestisida alami. Perhatikan curah hujan dan ketika penyemprotannya. Usahakan menyemprot sesudah hujan biar tidak luntur oleh air hujan.
http://bertanimandiri.blogspot.com
0 Response to "Pestisida Skala Rumah Tangga"
Post a Comment