Pangsa Pasar Ikan Sidat Di Jepang
Monday, December 30, 2019
Add Comment
Jijik boleh-boleh saja. Tapi, kalau tahu khasiatnya, orang bakal tak sempat membayangkan rasa jijiknya. Itulah yang biasa dialami orang ketika melihat ikan sidat alias anguilla. Badannya yang pipih memanjang sekilas mirip belut. Cuma, kalau lebih ditelisik, kepalanya ternyata berbeda. Bentuknya lebih menyerupai ikan lele yang ber-sungut dua. Ngerinya, pada umur setahun, bentuknya tak berbeda dengan ular. Panjangnya bisa mencapai 2-3 meter. Di Indonesia ikan ini dikenal dengan aneka macam nama berdasarkan bahasa daerah. Orang Betawi menyebutnya Moa, orang Sulawesi menyebutnya Sogili, orang Sunda menyebutnya Lubang, sementara ada juga yang menyebutnya Massapi. Dalam bahasa Indonesia ikan ini disebut ikan Sidat (anguilla sp.).
Ikan sidat mempunyai banyak keunggulan. Konon, tekstur dagingnya yang lembut bisa menyembuhkan aneka macam penyakit, terutama penyakit kulit. Di Jepang dan Eropa, sidat digemari alasannya mempunyai kandungan protein, terutama vitamin A. Kandungan vitamin A sidat 45 kali lipat dari kandungan vitamin A susu sapi. Kandungan vitamin B1 sidat setara dengan 25 kali lipat kandungan vitamin B1 susu sapi. Kandungan vitamin B2 sidat sama dengan 5 kali lipat kandungan vitamin B2 susu sapi. Dibanding ikan salmon, sidat mengandung DHA (Decosahexaenoic acid, zat wajib untuk pertumbuhan anak) sebanyak 1.337 mg/100 gram sementara ikan salmon hanya 748 mg/100 gram. Sidat mempunyai kandungan EPA (Eicosapentaenoic Acid) sebesar 742 mg/100 gram sementara salmon hanya 492 mg/100 gram. Masih banyak lagi kandungan zat gila yang terkandung dalam badan sidat. Tak heran, di Eropa, Amerika, Taiwan, dan Jepang, konsumsi ikan sidat cukup tinggi.
Tengoklah pasar ikan sidat sekarang. Kebutuhan dunia akan sidat ketika ini sekitar 300.000 ton. Dan, khusus di Jepang, permintaannya mencapai 120.000 ton per tahun. Memang, Negeri Matahari Terbit juga membiakkan ikan jenis ini. Hanya, kini 75% di antaranya kudu diimpor karena benih di perairan Jepang kian menurun. Hebatnya lagi, dari 18 spesies sidat di dunia, tujuh di antaranya ada di Indonesia. Malah, diduga, nenek moyang ikan menyerupai belut ini berasal dari perairan Sulawesi.
Makan ikan sidat atau dikenal dengan Unagi, bukanlah masakan biasa, tetapi termasuk termahal di resetoran Jepang sehingga bila kita dijamu dengan hidangan masakan tersebut, mengatakan kita sebagai tamu terhormat. Unagi merupakan suguhan masakan bagi pertemuan pembisnis besar dan populer atau tokoh tokoh penting . Karenanya yang terlibat dalam bisnis sidat disana yakni perusahaan besar multi nasional menyerupai Mitsui, Marubeni, Ssasakawa dan lainnya dan perusahaan ini gres mau berafiliasi bila kita bisa memasok kontrak diatas 5.000 ton pertahun .
Indonesia sampai ketika ini belum bisa berbuat, walau ada 3 wilayah khusus di perairan kita sebagai tempat pengembangan telur ikan sidat yaitu Poso, Sorong Barat dan Pelabuhan Ratu.
Ikan yang menjadi santapan kalangan elite di Jepang ini kini semakin diminati pebisnis di Indonesia. Apalagi dengan terbukanya pasar ekspor sidat ke negara-negara Asia Timur (Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang). Kini, seruan sidat sangat tinggi baik di pasar lokal maupun pasar internasional. Sayangnya seruan yang sangat tinggi tidak diimbangi oleh ketersediaan pasokan. Beberapa supermarket besar di Jakarta masing-masing membutuhkan sidat segar 3 ton perbulan sementara yang terpenuhi gres 10 persennya, inipun pasokannya tidak kontinyu. Ini belum terhitung kebutuhan restoran dan perusahaan-perusahaan pengolah hasil perikanan.
Sumber : http://www.sidatonline.com

0 Response to "Pangsa Pasar Ikan Sidat Di Jepang"
Post a Comment