Misteri Ikan Idat, Sogili, Pelus (Anguilla Spp.) Di Indonesia
Sunday, December 29, 2019
Add Comment
Di wilayah Pasifik Barat (sekitar perairan Indonesia) dikenal ada tujuh spesies ikan sidat yaitu : Anguilla celebensis dan Anguilla borneensis, yang merupakan jenis endemik di perairan sekitar pulau Kalimantan dan Sulawesi, Anguilla interioris dan Anguilla obscura yang berada di perairan sebelah utara Pulau Papua, Anguilla bicolor pasifica yang dijumpai di perairan Indonesia bab utara (Samudra Pasifik), Anguilla bicolor pasifica yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatra dan selatan Pulau Jawa), sedangkan Anguilla marmorata merupakan jenis sidat kosmopolitan yang mempunyai sebaran sangat luas di seluruh perairan tropis (Sarwono, 2000).
Ikan sidat termasuk dalam kategori ikan katadromus, ikan sidat remaja akan melaksanakan migrasi kelaut untuk melaksanakan pemijahan, sedangkan anakan ikan sidat hasil pemijahan akan kembali lagi ke perairan tawar sampai mencapai dewasa. Sejak awal tahun 1980, jumlah glass eel yang memasuki sungai-sungai di Eropa mengalami penurunan sampai tinggal 1% dari jumlah semula (Dekker dalam Dannewitz, 2003). Menurunnya jumlah glass eel yang memasuki suatu wilayah perairan menunjukkan kemungkinan adanya penurunan kualitas lingkungan yang mengancam populasi sidat.
Ikan sidat termasuk dalam genus Anguilla, famili Anguillidae, seluruhnya berjumlah 19 spesies. Wilayah penyebarannya mencakup perairan Indo-Pasifik, Atlantik dan Hindia. Ikan sidat merupakan ikan nokturnal, sehingga keberadaannya lebih gampang ditemukan pada malam hari, terutama pada bulan gelap.
Bleeker dalam Liviawaty dan Afrianto (1998), menyampaikan bahwa ikan sidat mempunyai penjabaran sebagai berikut :
- Phylum : Chordata
- Class : Pisces
- Ordo : Apodes
- Famili : Anguillidae
- Genus : Anguilla
- Spesies : Anguilla sp.
Jenis-jenis ikan sidat (Anguila spp.)
1. Anguilla anguilla (Linnaeus, 1758) European eel
2. Anguilla australis australis (Richardson, 1841) Shortfin eel
3. Anguilla australis schmidti (Philipps, 1925)
4. Anguilla bengalensis bengalensis (Gray, 1831) Indian mottled eel
5. Anguilla bengalensis labiata (Peters, 1852) African mottled eel
6. Anguilla bicolor bicolor (McClelland, 1844) Indonesian shortfin eel
7. Anguilla bicolor pacifica (Schmidt, 1928) Indian short-finned eel
8. Anguilla breviceps (Chu & Jin, 1984)
9. Anguilla celebesensis (Kaup, 1856) Celebes longfin eel
10. Anguilla dieffenbachii (Gray, 1842) New Zealand longfin eel
11. Anguilla interioris (Whitley, 1938) Highlands long-finned eel
12. Anguilla japonica (Temminck & Schlegel) Japanese eel
13. Anguilla malgumora (Kaup, 1856) Indonesian longfinned eel
14. Anguilla marmorata (Quoy & Gaimard, 1824) Giant mottled eel
15. Anguilla megastoma (Kaup, 1856) Polynesian longfinned eel
16. Anguilla mossambica (Peters, 1852) African longfin eel
17. Anguilla nebulosa (McClelland, 1844) Mottled eel
18. Anguilla nigricans (Chu & Wu, 1984)
19. Anguilla obscura (Günther, 1872) Pacific shortfinned eel
20. Anguilla reinhardtii (Steindachner, 1867) Speckled longfin eel
21. Anguilla rostrata (Lesueur, 1817) American eel
Ikan sidat betina lebih menyukai perairan esturia, danau dan sungai-sungai besar yang produktif, sedangkan ikan sidat jantan menghuni perairan berarus deras dengan produktifitas perairan yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan produktifitas suatu perairan sanggup mempengaruhi distribusi jenis kelamin dan rasio kelamin ikan sidat. Perubahan produktifitas juga sering dihubungkan dengan perubahan pertumbuhan dan fekunditas pada ikan (EIFAC/ICES, 2000). Helfman et al. (1997) menyampaikan bahwa ikan sidat jantan tumbuh tidak lebih dari 44 cm dan matang gonad sesudah berumur 3-10 tahun. Anguilla sp. tergolong gonokhoris yang tidak berdiferensiasi, yaitu kondisi seksual berganda yang keadaannya tidak stabil dan sanggup terjadi intersex yang impulsif (Effendi,2000).
Stadia perkembangan ikan sidat baik tropik maupun subtropik (temperate) umumnya sama, yaitu stadia leptochephalus, stadia metamorphosis, stadia glass eel atau elver, yellow eel dan silver eel (sidat remaja atau matang gonad). Setelah tumbuh dan berkembang di perairan tawar, sidat remaja (yellow eel) akan berkembang menjadi silver eel (sidat matang gonad), dan selanjutnya akan bermigrasi ke maritim untuk berpijah. Lokasi pemijahan sidat tropis diduga berada di perairan Samudra Indonesia, tepatnya di perairan barat pulau Sumatera (Setiawan et al., 2003).
Juvenil ikan sidat hidup selama beberapa tahun di sungai-sungai dan danau untuk melengkapi siklus reproduksinya (Helfman et al, 1997). Selama melaksanakan ruaya pemijahan, induk sidat mengalami percepatan pematangan gonad dari tekanan hidrostatik air laut, kematangan gonad maksimal dicapai pada ketika induk mencapai tempat pemijahan. Proses pemijahan berlangsung pada kedalaman 400 m, induk sidat mati sesudah proses pemijahan (Elie, P., 1979 dalam Budimawan, 2003).
Waktu berpijah sidat di perairan Samudra Hindia berlangsung sepanjang tahun dengan puncak pemijahan terjadi pada bulan Mei dan Desember untuk Anguilla bicolor bicolor, Oktober untuk Anguilla marmorata, dan Mei untuk Anguilla nebulosa nebulosa (Setiawan et al., 2003). Di perairan Segara Anakan, Anguilla bicolor sanggup ditemukan pada bulan September dan Oktober, dengan kelimpahan tertinggi pada bulan September (Setijanto et al., 2003).Makanan utama larva sidat yaitu plankton, sedangkan sidat remaja menyukai cacing, serangga, moluska, udang dan ikan lain. Sidat sanggup diberi pakan buatan ketika dibudidayakan (Liviawaty dan Afrianto, 1998). Tanaka et al.(2001) menyampaikan bahwa pakan terbaik untuk sidat pada stadia preleptochepali yaitu tepung telur ikan hiu, dengan pakan ini sidat stadia preleptochepali bisa bertahan hidup sampai mencapai stadia leptochepali.
Kedatangan juvenil sidat di estuaria dipengaruhi oleh beberapa factor lingkungan, terutama salinitas, debit air sungai, ‘odeur’ air tawar dan suhu. Elver yang sedang beruaya anadromous menunjukkan kadar thyroid hyperaktif yang tinggi, sehingga bersifat reotropis (ruaya melawan arus). Elver juga bersifat haphobi (menghindari massa air bersalinitas tinggi) sehingga memungkinkan ruaya melawan arus ke arah datangnya air tawar (Budimawan, 2003).
Aktivitas sidat akan meningkat pada malam hari, sehingga jumlah elver yang tertangkap pada malam hari lebih banyak daripada yang tertangkap pada siang hari (Setijanto et al., 2003). Hasil penelitian Sriati (2003) di di muara sungai Cimandiri menunjukkan bahwa elver cenderung menentukan habitat yang mempunyai salinitas rendah dengan turbiditas tinggi. Salinitas dan turbiditas merupakan parameter yang paling kuat terhadap kelimpahan. Kelimpahan elver yang paling tinggi terjadi pada ketika bulan gelap.
Ikan sidat bisa menyesuaikan diri pada kisaran suhu 12oC-31oC, sidat mengalami peurunan nafsu makan pada suhu lebih rendah dari 12oC. Salinitas yang bisa ditoleransi berkisar 0-35 ppm. Sidat mempunyai kemampuan mengambil oksigen eksklusif dari udara dan bisa bernapas melalui kulit diseluruh tubuhnya (Liviawaty dan Afrianto, 1998).
Sumber : http://sidatmoa.wordpress.com

0 Response to "Misteri Ikan Idat, Sogili, Pelus (Anguilla Spp.) Di Indonesia"
Post a Comment