Pemeliharaan Larva Dan Panen Bibit Lele Sangkuriang
Friday, December 13, 2019
Add Comment

Pemeliharaan Larva dan Panen Bibit Lele Sangkuriang
Pemeliharaan larva atau bibit ikan lele sangkuriang pasca penetasan telur dilakukan pada hapa penetasan telur yang dialiri air dan dilengkapi dengan aerasi yang tidak terlalu kencang semoga larva atau bibit lele sangkuriang tidak teraduk. Pemeliharaan larva lele dalam happa dilakukan selama (4-5) hari tanpa diberi pakan, lantaran larva lele pada ketika itu masih memanfaatkan kuning telur yang ada dalam badan larva lele itu sendiri.
Memasuki hari ke-5 dan seterusnya kuning telur dalam badan larva telah habis, larva selanjutnya dipindahkan ke dalam kolam fiber untuk dipelihara lebih lanjut. Pemeliharan larva dalam kolam fiber dilakukan semenjak ikan memasuki umur 5 hari hingga 21 hari. Larva dipelihara dalam kolam fiber berukuran 4 m x 2 m x 0,8 m dan diisi air sebanyak 1/2 dari tinggi kolam dengan padat tebar 15.625 ekor/ m3. Kaprikornus jumlah penebaran larva dalam kolam fiber sebanyak 100.000 ekor.
Selama dalam pemeliharaan di dalam fiber, larva umur 5 hari diberi pakan cacing sutra (tubifex sp). Sebelum diberikan, cacing sutra tersebut dicincang terlebih dahulu. Hal itu dilakukan lantaran ukuran bukaan verbal ikan yang masih kecil. Pemberian cacing sutra cincang diberikan hingga larva berumur 12 hari. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 50 gr setiap kali derma pakan pada pagi dan sore hari. Setelah ikan berumur lebih dari 12 hari selanjutnya larva ikan diberi pakan cacing sutra utuh dengan jumlah pakan sebanyak 75 gr setiap kali derma pakan pada pagi dan sore hari. Pemberian pakan, selama masa pemeliharaan larva lele sangkuriang diberikan pakan alami dan pakan tambahan. Menurut Mujiman (2000), Pemberian pakan alami diadaptasi dengan ukuran benih. Biasanya efektivitas pertumbuhan benih yang memakan plankton alami berkisar (2–3) ahad semenjak ditebar ke kolam. Pakan komplemen diberikan dengan takaran 3% – 5% dari bobot populasi ikan dan diberikan dua hingga tiga kali sehari, pemberiannya dimulai semenjak hari kedua sehabis benih ditebar.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup larva, maka lingkungan yang baik harus tetap terjaga. Menurut Lukito (2002), dalam aktivitas pengontrolan kualitas air mencakup pergantian air dengan pengaturan volume air dan penyiponan. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan melaksanakan penyifonan kolam pemeliharaan larva setiap pagi hari sebelum derma pakan dan penggantian air sebanyak 50%. Penyifonan dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa pakan dan kotoran yang terdapat di dasar kolam pemeliharaan larva. Sedangkan untuk menambah oksigen terlarut dalam kolam pemeliharaan larva, air dalam kolam pemeliharaan diberikan aerasi secara terus menerus.
Meskipun kondisi ikan dalam kondisi yang baik, selama dalam pemeliharaan, larva ikan lele sangkuriang tetap diberikan perawatan sebagai upaya pengendalian hama penyakit untuk pencegahan. Menurut Lukito (2004), aktivitas pengendalian hama penyakit mencakup pencegahan dan pengobatan. Tindakan pencegahan yang dilakukan dengan menawarkan garam sebanyak 3 kg dalam 3,2 m3 air (1 ppt).
Larva yang telah berumur 21 hari warna tubuhnya tampak kehitaman dan sudah menyebar dipermukaan air, hal ini membuktikan bahwa larva siap dipanen untuk eksklusif dijual atau ditebar ke kolam pendederan yang sudah disiapkan sebelumnya. Pemanenan larva atau bibit lele didahului dengan menutup jalan masuk pemasukan air dan membuka outlet. Kemudian pada pipa outlet dipasang seser halus untuk menampung benih. Menurut Prihartono dkk (2000), larva lele sangkuriang umur satu ahad telah siap untuk dipanen. Selama aktivitas pemanenan perlu adanya perlakuan tertentu lantaran lele sangkuriang merupakan jenis ikan yang tidak bersisik, tetapi tubuhnya berlendir. Oleh lantaran tidak bersisik maka tubuhnya sangat gampang mengalami lecet dan luka. Lecet atau luka pada lele sangkuriang sanggup disebabkan oleh penggunaan peralatan yang sembarangan, cara panen yang kurang baik dan waktu panen yang kurang tepat.
Larva diangkat atau dipindahkan dengan memakai beker glass berukuran 100 ml ke dalam bejana penampungan atau eksklusif dipacking ke dalam kantong plastik berukuran 40 cm x 60 cm dua rangkap dan telah diisi air sebanyak (4 – 6) liter, kemudian diberi oksigen sebanyak 2/3 dan diikat dengan memakai karet gelang. Kepadatan larva per kantong tergantung jarak pengangkutan atau seruan dari pembeli. Tapi biasanya berkisar antara (15.000 – 30.000) ekor larva dalam setiap kantong. Setelah packing, benih siap dikirim ke daerah yang dituju.
Bersumber dari livebeta.kaskus.us dengan perubahan
0 Response to "Pemeliharaan Larva Dan Panen Bibit Lele Sangkuriang"
Post a Comment