Perubahan Iklim Ubah Contoh Migrasi Sidat Tropis
Tuesday, December 24, 2019
Add Comment
Perubahan iklim telah mengubah contoh migrasi ikan sidat di perairan bahari Kepulauan Indonesia. Jika biasanya ikan ini hanya bisa dilihat di bahari selama setengah tahun, namun ketika ini belut bahari ini muncul sepanjang tahun.

Bentuknya ibarat ular. Namun secara biologis lantaran mempunyai insang dan sirip dia masuk kelompok ikan. Orang Indonesia biasa menyebutnya ikan sidat (belut bahari tropis) atau bahasa latinnya anguilla sp. Jarang sekali ikan ini dikonsumsi oleh orang pribumi. Meski demikian, jangan remehkan ikan ini dari bentuknya. Sebab kandungan nutrisi ikan ini berada di atas rata-rata semua jenis ikan. Bahkan, di Eropa, Amerika, dan Jepang ikan ini laku bagus dan menjadi konsumsi dari kalangan menengah ke atas lantaran harganya cukup mahal.
Bahkan sebagian orang Jepang percaya bahwa dengan mengonsumsi ikan ini bisa menambah stamina dan memperpanjang umur. Meskipun terkesan hanya sebagai mitos, namun secara medis ikan ini memang mempunyai kandungan nutrisi protein, karbohidrat, serta omega 3 yang tinggi. Sehingga menguatkan fungsi otak dan memperlambat terjadinya kepikunan. Indonesia mempunyai potensi sebagai penghasil ikan sidat jenis tropis yang melimpah.
Menurut Peneliti Bidang Sumber Daya Laut Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hagi Yulia Sugeha menyatakan RI berpotensi menjadi penghasil ikan sidat terbesar di dunia. Sebab, ikan sidat jenis tropis yang ada di perairan bahari Indonesia mempunyai huruf yang unik. Sidat betina tropis mempunyai kemampuan reproduksi sembilan kali lebih banyak ketimbang jenis ikan sidat dari lintang tinggi. Ini bisa dilihat dari jumlah telur yang dibawa dalam perutnya. Selain itu kemampuan memijahnya pun sepanjang tahun. Dengan kemampuan bertelur mencapai ratusan ribu bahkan jutaan telur, maka ikan ini sangat potensial untuk dibudidayakan.
“Ikan sidat merupakan sajian paling mahal di Jepang disebut sebagai unagi tahun 2000-an harga ikan ini di pasar 700 yen per ekor (saat itu sekira Rp.490 ribu per ekor). Tapi kalau sudah diolah yang siap makan di restoran harganya 5.000 yen per porsi. Itu hanya orang kaya yang beli padahal hanya 1 potong,” katanya.
Meski demikian, kata dia, ikan sidat kini mulai menawarkan contoh hidup yang berbeda. Menurut Yulia, ini bisa disebabkan oleh perubahan iklim atau kondisi air yang tercemar. Selama ini dilaporkan ikan ini akan muncul di lautan hanya setengah tahun. Namun ternyata berdasarkan penelitian yang beliau lakukan di Muara Sungai Poigar sebelah utara pulau Sulawesi, ikan ini bisa muncul sepanjang tahun. Selain itu, komposisi spesies ikan sidat yang masuk ke perairan bahari Indonesia pun bisa berbeda. Dalam satu tahun bisa mayoritas sidat jenis spesies celebesensis, sedang tahun berikutnya bisa mayoritas marmorata.
Pengamatan yang dilakukan Yulia bersama empat peneliti dari Jepang selama kurun 1997-1999, terungkap bahwa contoh migrasi sidat Muara Sungai Poigar Sulawesi tercatat ada tiga huruf spesies sidat yang melimpah. Yakni, jenis anguilla celebesensis, marmorata, dan bicolor pacifica. Selama tiga tahun penelitian celebesensis merupakan spesies paling melimpah dengan angka 73,5 persen, 79,5 persen, dan 81,9 persen. Marmorata merupakan spesies dengan kelimpahan nomor dua dengang persentase 23,8 persen, 18,8 persen, dan 17,7 persen. Sedangan bicolor pasifika hanya 2,7 persen, 1,7 persen, dan 0,3 persen.
“Selama awal bulan, belut bahari ini tampak lebih melimpah ketika bahari pasang ketimbang ketika surut. Dari hasil penelitian ini menemukan bahwa ikan sidat akan menjadi melimpah ketika awal bulan dan ketika bahari pasang,” katanya.
Namun selama empat tahun terakhir penelitian yang dilakukan Yulia bersama tim peneliti LIPI, ditemukan contoh migrasi yang berbeda dari ikan ini.
Menurut dia, ikan sidat telah mengubah tingkah laku migrasi. Dia bersama tim peneliti gres saja melaporkan wacana perubahan dominasi spesies. Celebesensis yang sebelumnya tampak melimpah sekarang telah digantikan oleh marmorata. Toh meskipun, kata dia, dalam bermigrasi celebesensis memang lebih bersahabat ke Indonesia dibandingkan marmorata dan bicolor pasifika.
“Kami menduga perubahan siklus ini lantaran beliau mengikuti siklus perubahan iklim. Makara mungkin 10 tahun lalu bisa jadi celebesensis akan mayoritas lagi. Lha kalau dipengaruhi lagi oleh perubahan iklim itu bisa berubah alasannya yakni spesies yang bermigrasi sangat erat kaitannya dengan perubahan iklim atau lingkungan. Makara apabila lingkungan berubah, maka contoh migrasinya juga akan berubah. Misalnya sungainya rusak, terkotori dan lainnya,” paparnya.
Para ilmuwan memang sudah terlanjur khawatir. Bahwa pada 2030 mendatang diperkirakan banyak spesies akan punah. Namun kenyataannya dilaporkan bahwa Indonesia merupakan tempat bagi tujuh dari 18 spesies ikan sidat yang ada di dunia.
Bahkan hasil penelitian yang dilakukan Yulia dan Tim LIPI menemukan lima jenis spesies gres yang karakternya belum pernah di laporkan ada di dunia. Sehingga berpeluang menjadi spesies gres di luar angka 18 spesies yang telah tercatat tersebut. Selain itu, beliau menemukan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi tempat tinggal tujuh spesies sidat, namun juga ditemukan dua spesies lainnya yang termasuk belahan dari 18 spesies tersebut. Artinya Indonesia berpeluang ditempati sembilan spesies sidat yang pernah dikenal di dunia.
Tidak hanya itu, spesies moyang dari sidat yakni anguilla borneensis merupakan spesies yang hanya ada di Indonesia dan statusnya sudah endemis atau terancam punah. Wilayah Indonesia memang sangat memungkinkan sebagai tempat favorit sidat, lantaran huruf ikan sidat yang suka bertelur di wilayah deretan pulau. Selain itu banyaknya gunung dan danau merupakan nirwana bagi ikan ini. Yulia bersama Tim peneliti sempat menemukan ikan sidat yang sudah berumur 15 tahun dengan ukuran panjang 1,72 meter dan berat 15 kg. Tingkat pertumbuhannya memang tinggi di kawasan tropis.
“Curiga saya jangan-jangan 18 spesies dunia awal penyebarannya dari Indonesia lalu menyebar ke kawasan lain,” katanya.
Mempelajari contoh huruf hidup ikan sidat memang unik. Ikan ini bisa hidup di air tawar maupun asin, dipercaya inilah yang menyebabkan metabolisme dan daya tahan badan ikan ini menjadi tinggi sehingga kandungan nutrisinya pun tinggi. Ikan sidat remaja akan bereproduksi di laut. Sementara jutaan anakan-anakan ikan ini akan bermigrasi mencari muara dan menuju air tawar dan tinggal di sana selama bertahun-tahun.
Setelah remaja sidat akan kembali mencari bahari untuk bereproduksi begitu terus siklusnya. Ini terbalik dari ikan salmon yang justru mencari air tawar untuk melaksanakan reproduksi, dan anak-anaknya yang akan bermigrasi mencari laut.
Namun berdasarkan Yulia, memang ada yang berubah dari contoh migrasi sidat. Temuan lain yang beliau dapatkan bersama tim peneliti yakni contoh migrasi yang tidak sama antara Indonesia belahan barat, tengah, dan timur.
Penelitian yang dilakukan secara serentak di tiga wilayah tersebut dengan melibatkan banyak anggota tim peneliti menemukan bahwa animo kemarau merupakan puncak kelimpahan sidat di Indonesia belahan tengah yakni pada bulan April – Oktober. Namun kebalikannya, justru Indonesia belahan barat dan timur kelimpahannya rendah ketika animo kemarau.
“Jadi kemungkinan ketemu kelimpahannya di animo penghujan. Nah implikasinya buat pengelolaannya dihentikan sama. Kebiasaan di Indonesia, kalau satu kebijaksanaan dayanya ibarat ini maka yang lainnya juga sama. Padahal musimnya saja beda,” paparnya.
Hingga ketika ini, memang eksploitasi ikan sidat masih mengandalkan hasil tangkapan alam. Biasanya ikan sidat ditangkap ketika anakan untuk lalu diekspor atau pada ukuran yang sudah besar. Meskipun di Indonesia potensinya memang melimpah dan belum tergali, namun berdasarkan Yulia sampai ketika ini belum ditemukan lokasi di mana ikan sidat ini bertelur dan bereproduksi. Jika sudah ditemukan lokasi dan karakternya, tentu akan sangat membantu pengembangan kebijaksanaan dayanya.
Selain itu, beliau mengkhawatirkan masih ada spesies lain ikan sidat di negeri ini yang belum ditemukan. Kekhawatirannya spesies tersebut sudah punah lebih dulu sebelum dilakukan pencatatan jawaban eksploitasi yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan kehidupan ikan ini.
Sumber : http://sidatmoa.wordpress.com
0 Response to "Perubahan Iklim Ubah Contoh Migrasi Sidat Tropis"
Post a Comment