Cara Budidaya Cabe
Thursday, May 16, 2019
Add Comment

PENDAHULUAN
Cara menanam cabai (cabe) yang tepat, baik cara pengendalian hama penyakit maupun teknik budidaya cabai (cabe) sangat memilih keberhasilan budidaya. Cara menanam cabai (cabe) yang saya uraikan di sini sudah diubahsuaikan dengan kondisi di lapangan pada dikala ini. Saya rangkai sedemekian rupa sehingga Cara menanam cabai (cabe) ini sangat mudah dan gampang diterapkan terutama bagi petani pemula.
SYARAT TUMBUH TANAMAN CABAI (CABE)
Tanah
Tanah daerah penanaman cabai (cabe) harus gembur dengan kisaran pH 6,5 – 6,8.
Air
Tanaman cabai (cabe) memerlukan air cukup untuk menopang pertumbuhannya. Air berfungsi sebagai pelarutunsur hara, pengangkut unsur hara ke organ tanaman, pengisi cairan tumbuhan cabai, serta membantu proses fotosintesis dan respirasi. Tetapi pemberian air dihentikan berlebihan.
Iklim
Angin sepoi-sepoi cocok untuk budidaya cabai (cabe). Curah hujan tinggi kuat terhadap kelebihan air. Intensitas sinar matahari sangat dibutuhkan tumbuhan cabai (cabe), berkisar antara 10 – 12 jam per hari. Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan tumbuhan cabai (tanaman cabe) 240C -280C.
PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA CABAI (CABE)

Pemilihan Lokasi Budiaya Cabai (Cabe)
Lokasi budidaya cabai (cabe) sebaiknya dipilih yang strategis, transportasi mudah, bersahabat sumber air, jauh dari areapenanaman cabai (cabe) lain/tanaman sefamili. Sejarah lahan sangat penting untuk diperhatikan, paling baik lahan tidak ditanami tumbuhan cabai (cabe) selama minimal 2 tahun terakhir supaya diperoleh hasil optimal.
Pengukuran pH Tanah Budiaya Cabai (Cabe)
Pengukuran pH tanah dibutuhkan untuk memilih jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran sanggup memakai kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel sanggup dilakukan secara zigzag.
Persiapan Sarana Prasarana Budiaya Cabai (Cabe)
1. Pengadaan tanah untuk media semai.
2. Pengadaan pupuk kandang, pupuk kimia, dan kapur pertanian.
3. Pengadaan benih dan mulsa PHP (Plastik Hitam Perak).
4. Pengadaan pestisida.
5. Pengadaan ajir, bambu penjepit mulsa PHP, dan tali pertanian.
6. Pengadaan peralatan.
7. Persiapan tenaga kerja.
PELAKSANAAN BUDIDAYA CABAI (CABE)

Persiapan Lahan Budidaya Cabai (Cabe)
1. Pembajakan dan penggaruan.
2. Pembuatan bedengan bergairah selebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm, lebar parit 50-70 cm.
3. Pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP untuk tanah dengan pH di bawah 6,5.
4. Pemberian pupuk sangkar fermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP.
5. Pengadukan/pencacakan bedengan supaya pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah. Rapikan bedengan.
6. Pemasangan mulsa PHP.
7. Pembuatan lubang tanam.
8. Jarak tanam ideal ekspresi dominan kemarau 60 cm x 60 cm dan ekspresi dominan penghujan sanggup diperlebar 70 cm x 70 cm. Tujuannya untuk menjaga kelembaban udara di sekitar pertanaman cabai (cabe).
9. Pemasangan ajir.
Persiapan Pembibitan dan Penanaman Budidaya Cabai (Cabe)
1. Rumah atau sungkup pembibitan.
2. Pembuatan media semai.
3. Komposisi media semai yakni 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media semai dimasukkan ke dalam polibag semai.
4. Penyemaian benih cabai (cabe).
5. Pemeliharaan bibit.
Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, kemudian sungkup dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan pestisida dilakukan pada umur 15 hss (hari sehabis semai). Dosis ½ dari takaran dewasa.
6. Pindah tanam.
Bibit cabai (cabe) berdaun sejati 4 helai siap pindah tanam ke lahan.
PEMELIHARAAN TANAMAN CABAI (CABE)
Penyulaman Budidaya Cabai (Cabe)
Penyulaman budidaya cabai (cabe) dilakukan hingga umur tumbuhan 3 minggu. Apabila umur tumbuhan cabai (cabe) sudah terlalu renta dan masih terus disulam menjadikan pertumbuhan tumbuhan cabai (cabe) tidak seragam. Berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.
Perempelan dan Pengikatan Tanaman Budidaya Cabai (Cabe)
Perempelan tunas samping. Perempelan tunas samping dilakukan pada tunas yang keluar di ketiak daun. Bertujuanmemacu pertumbuhan vegetatif tanaman, supaya tumbuhan cabai (cabe) tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban dikala tumbuhan cabai (cabe) sudah dewasa. Dilakukan hingga pembentukan cabang utama, ditandai munculnya bunga pertama.
Perempelan daun. Perempelan daun dilakukan umur 80 hst (hari sehabis tanam) pada daun-daun di bawah cabang utama dan daun tua/terserang penyakit.
Sanitasi Lahan Budidaya Cabai (Cabe)
Sanitasi lahan budidaya cabai (cabe) mencakup : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air dikala ekspresi dominan hujan sehingga tidak muncul genangan, tumbuhan cabai (cabe) terjangkit hama penyakit disingkirkan dari area penanaman.
Pengairan Budidaya Cabai (Cabe)
Pengairan budidaya cabai (cabe) diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali bila tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.
Pemupukan Susulan Budidaya Cabai (Cabe)
PUPUK AKAR
Diberikan dengan cara pengocoran :
- Umur 15 hst dan 30 hst, takaran 3kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tumbuhan cabai (cabe) 200ml.
- Umur 45 hst dan 60 hst, takaran 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tumbuhan cabai (cabe) 200ml.
- Umur 75 hst, 90 hst dan 105 hst, takaran 5kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiaptanaman cabai (cabe) 200ml.
PUPUK DAUN
- Kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dan 21 hst.
- Kandungan Phospat, Kalium dan Mikro tinggi diberikan umur 35 hst dan 75 hst.
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABAI (CABE)
HAMA TANAMAN CABAI (CABE)
Gangsir
Gangsir tumbuhan cabai (cabe) yakni Brachytrypes portentosus. Hama ini menyerang tumbuhan muda yang gres saja pindah tanam. Serangannya dilakukan malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Gangsirmembuat liang dalam tanah hingga kedalaman 90 cm.Gangsir merusak tumbuhan cabai (cabe) dengan cara memotong pangkal batang tapi tidak memakannya. Pengendalian kimiawi memakai insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.
Ulat Tanah
Ulat tanah tumbuhan cabai (cabe) yakni Agrotis ipsilon. Hama jenis ini menyerang tumbuhan cabai (cabe) di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tumbuhan cabai (cabe) muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan ulat pemotong. Pengendalian kimiawi memakai insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.
Ulat Grayak
Ulat grayak tumbuhan cabai (cabe) yakni Spodoptera litura. Hama ini menyerang potongan daun tumbuhan cabai (cabe) dengan cara bergerombol. Daun menjadi berlubang dan meranggas. Ulat grayak disebut juga ulat tentara. Seperti halnya jenis ulat lain ulat ini menyerang tumbuhan cabai (cabe)malam hari, sedang siang harinya bersembunyi di balik mulsa atau dalam tanah. Ulat grayak bersifat polifag. Pengendalian kimiawi memakai insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Ulat Buah
Ulat buah tumbuhan cabai (cabe) yakni Helicoverpa sp.Hama ini menyerang buah muda dengan cara menciptakan lubang dan memakannya. Ulat buah bersifat polifag. Pengendalian kimiawi memakai insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuaipetunjuk pada kemasan.
Thrips
Thrips tumbuhan cabai (cabe)e yakni Thrips parvispinus. Serangannya ditandai adanya bercak-bercak keperakan pada daun tumbuhan cabai (cabe) yang terserang. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun muda sehingga mengakibatkan daun tumbuhan yang terjangkit mengeriting, balasannya tumbuhan cabai (cabe) menjadi kerdil. Pengendalian kimiawi memakai insektisida berbahanaktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Kutu Daun
Kutu daun tumbuhan cabai (cabe) yakni Myzus persiceae. Kutu ini mengisap cairan tumbuhan cabai (cabe)terutama pada daun muda, kotorannya berasa bagus sehingga menggundang semut. Serangan parah mengakibatkan daun mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, balasannya tumbuhan cabai (cabe) menjadi kerdil. Pengendalian kimiawi memakai insektisidaberbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Kutu Kebul
Kutu kebul tumbuhan cabai (cabe) yakni Bemisia tabaci. Hama berwarna putih, bersayap, tubuhnya diselimuti serbuk putih ibarat lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian kimiawi memakai insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Tungau
Tungau tumbuhan cabai (cabe) yakni tungau kuning(Pol Polphagotarsonemus lotus) dan tungau merah(Tetranychus cinnabarinus). Tungau bersembunyi di balik daun sambil menghisap cairan daun. Daun cabai (cabe) yang terjangkit berwarna kecoklatan, terpelintir, serta pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian kimiawi memakai insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Lalat Buah
Lalat buah tumbuhan cabai (cabe) yakni Dacus dorsalis.Lalat betina remaja menyerang dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur menjelma larva, telur-telur ini balasannya menggerogoti buah cabai (cabe)sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buahmenggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau sanggup memakai buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga sanggup dilakukan penyemprotan insektisidaberbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Nematoda
Nematoda tumbuhan cabai (cabe) yakni Meloidogyne incognita. Serangan nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Nematoda merupakan cacing tanah berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing benalu penyerang potongan akar tumbuhan cabai (cabe). Bekas gigitan cacing inilah balasannya mengakibatkan serangan sekunder, ibarat layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian nematoda dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.
PENYAKIT TANAMAN CABAI (CABE)
Rebah Semai
Rebah semai tumbuhan cabai (cabe) yakni Pythium debarianum. Penyakit ini biasa menyerang tumbuhan cabai (cabe) fase pembibitan dan tumbuhan muda sehabis pindah tanam. Cara pengendaliannya dengan penyemprotanfungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf danfungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis ½ dari takaran terendah yang tertera pada kemasan.
Layu Bakteri
Bakteri penyebab layu tumbuhan cabai (cabe) adalahPseudomonas sp. Penyakit layu basil sering menggagalkan tanaman, tumbuhan cabai (cabe) yang terjangkit mengalami kelayuan pada daun, diawali dari daun-daun muda. Upaya pengendaliannya antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tumbuhan cabai (cabe) terserang, melaksanakan penggiliran tumbuhan serta penyemprotan kimiawi memakai bakterisida dari golongan antibiotik denganbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada dikala persiapan lahan. Umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran memakai pestisida organik pada tanah, teladan wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
LayuFusarium
Cendawan penyebab layu tumbuhan cabai (cabe)adalah Fusarium oxysporum. Tanaman cabai (cabe) yang terjangkit mengalami kelayuan dimulai daun-daun tua, kemudian menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Upaya pengendaliannya antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tumbuhan cabai (cabe) terserang, melaksanakan penggiliran tumbuhan serta penyemprotan kimiawi memakai fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada dikala persiapan lahan. Umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran memakai pestisida organik pada tanah, teladan wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Busuk Phytophtora
Cendawan penyebab busuk phytophtora tumbuhan cabai (cabe) yakni Phytopthora infestans. Penyakit ini menyerang semua potongan tanaman. Serangan pada Batang ditandai bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius mengakibatkan tumbuhan cabai (cabe) layu. Daun yang terjangkit ibarat tersiram air panas. Buah yang terjangkit ditandai bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian kimiawi menggunakanfungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai diantaranya metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak, teladan materi aktif yang sanggup dipakai diantaranya tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Busuk Kuncup
Penyakit busuk kuncup tumbuhan cabai (cabe) adalahChoanephora cucurbitarum. Penyakit busuk kuncupmenyerang bunga, tangkai bunga, pucuk dan rantingtanaman cabai (cabe). Ranting yang terjangkit berwarna coklat kehitaman dan cepat menyebar sehingga mematikan ujung tumbuhan cabai (cabe), sedangkan potongan lainnya masih tegar. Ranting mati membusuk. Pengendalian kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai diantaranya metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf, danfungisida kontak, teladan materi aktif yang sanggup dipakai diantaranya tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Bercak Cercospora
Cendawan bercak cercospora tumbuhan cabai (cabe)adalah Cercospora capsici. Penyakit bercak cercosporamenyerang daun, tangkai buah, batang dan cabangtanaman cabai (cabe). Gejala serangan ditandai adanya bercak bundar kecil kebasah-basah, bercak sanggup meluas dengan diameter 0,5 cm, pusat bercak berwarna pucat hingga putih, tepi bercak berwarna lebih tua. Daun yang terjangkit parah berwarna kuning dan gugur. Pengendalian kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktifyang sanggup dipakai diantaranya benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, teladan materi aktif yang sanggup dipakai diantaranya klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Antraknosa(Patek)
Cendawan antraknosa tumbuhan cabai (cabe) adalahColletotrichum capsici dan Gloesporium piperatum.Antraknosa sering juga diistilahkan patek. Serangan pada buah ditandai bercak agak bundar dan berlekuk berwarna cokelat tua, di sini cendawan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Buah yang terjangkit harus dimusnahkan dari area penanaman cabai (cabe). Pengendalian kimiawi memakai fungisida sistemik, teladan materi aktif yang sanggup dipakai diantaranya benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Virus
Virus tumbuhan cabai (cabe) yakni TMV, TEV, TRV, CMV, TRSV, CTV dan PVY. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama ekspresi dominan kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhantanaman cabai (cabe) mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virussampai dikala ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tumbuhan ke tumbuhan lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi penular virus diantaranya yakni thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia sanggup juga berperan sebagai penularvirus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama dikala perempelan. Beberapa upaya penangananvirus antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penularvirus, memusnahkan tumbuhan cabai (cabe) terserang, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja supaya tidak ceroboh dikala melaksanakan penanganan terhadap tumbuhan cabai (cabe).
STRATEGI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA CABAI (CABE)
Pengendalian hama gangsir, ulat tanah dan nematodadilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberianinsektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.
Pengendalian hama ulat grayak, ulat buah, kutu daun,kutu kebul, thrips, tungau, lalat buah dan penyakitmenggunakan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian materi aktif yang tertera di atas setiap melaksanakan penyemprotan (jangan memakai materi aktifyang sama secara berturut-turut).

PANEN
Cabai (cabe) merah sanggup dipanen pada umur 110 hst. Buah dipanen yakni buah 80% masak.
0 Response to "Cara Budidaya Cabe"
Post a Comment