Bertani Itu Menyehatkan
Sunday, July 7, 2019
Add Comment
pertanian organik yang cuma sepetak itu. hijau kan?
Bertani menyehatkan? Ya, pengalaman saya bertani itu bisa menyehatkan jiwa, lingkungan, dan juga badan kita.
Sore tadi saya panen. Sawah seluas satu petak hasil menyewa ketika ini telah membuahkan hasil. Ini kali ke empat saya menikmati masa panen. Maklum saya menyewa sawah terhitung baru, gres satu tahun.
Awal saya tertarik bertani ketika saudara sepupu saya bilang, bila bertani itu banyak barakahnya. Setidaknya, kata saudara saya itu, 1 tahun saya tidak perlu repot membeli beras. Saya paling cuma mengeluarkan uang untuk beli lauknya. Beras hasul satu tahun itu tidak hanya cukup untuk dimakan, tapi juga dengan segala “keperluan lainnya”. Misalnya, melayat sama orang meninggal, ke permintaan perkawinan, dsb.
Di desa saya memang tradisinya begitu. Kemana-mana ketika “ke undangan” atau melayat, orang di kampung saya biasa bawa beras. Normal yang dibawa juga tidak banyak, sekitar 4 kg. Makanya, hasil panen biasanya disimpan oleh petani. Kecuali kalau sudah sangat mendesak, gres dijual.
Bertani Menyehatkan Jiwa
Karena kesibukan saya jarang pergi ke sawah untuk melihat tumbuhan padi saya. Suatu hari, ketika saya pergi sawah menjaga burung pemakan padi, teman saya yang PNS bilang bahwa bertani itu menyehatkan jiwa. Dia bilang, bertani itu terapi. Kebetulan teman saya ini juga nyambi bertani.
Terapi? Ya, terapi kesehatan jiwa. Bayangkan, setiap kali ke sawah kita bisa melihat perkembangan tanaman. Setiap kali ada perkembangan, kebahagian tiba-tiba menyeruak dalam hati. Sungguh nikmat. Misalnya saja, ketika gres menanam nampak tumbuhan masih menguning ibarat kurang sehat. Tapi seminggu saja sudah bermetamorfosis hijau. Makin lama, makin gagah dengan bulir-bulir buah. Terus hingga hasilnya hingga pada demam isu panen. Nah di setiap perkembangan itulah nampak sekali kepuasan batin melihat tumbuhan kita. Mulai semenjak ditanam hingga panen.
Bagaimana bila gagal? Bagi saya juga menyehatkan. Saya melihat kesabaran petani sangat luar biasa menghadapi musibah. Kesabaran itu membuahkan kecerdasan hati. Kecerdasan hati ini yang selalu menjaga kekerabatan petani dengan Tuhan. Mengadukan segala permasalahannya kepada-Nya. Bisa dilihat, meski sering menerima petaka gagal panen, atau harga jatuh ketika panen, sangat jarang petani yang stress. Mereka tangguh. Setangguh baja. Mengatakan ibarat ini, tidak berarti saya baiklah pada segala bentuk penindasan kepada petani.
Bertani Menyehatkan Lingkungan dan Tubuh
Terus jelas ketika bertani saya tidak sekedar mengharapkan hasil, meski ini tentu yang utama. Tetapi ada alasan lain kenapa saya bertani . Ceritanya begini :
Saya juga meniatinya untuk ikut menjaga lingkungan. Karena pertanian saya memakai pupuk organic. Awalnya begini, ketika petani sering menghadapi kesulitan pupuk kimia, saya mengundang teman bersahabat yang tahu banyak wacana pertanian organic, ke kelompok pengajian RT yang juga saya ikuti. Teman saya ini saya minta untuk mengkampenyakan pentingnya petani kembali lagi ke alam. Di samping ongkos produksi nantinya lebih murah, kebetulan bahan-bahan pupuk organi sudah tersedia.
Alhamdulillah ada dua anggota pengajian RT yang tertarik berguru menciptakan pupuk organic. Ketika menciptakan teman saya ini yang jadi mentornya. Bahkan teman saya ikut membantu semenjak dari proses awal hingga selesai. Sayang dua anggota pengajian ini tidak bisa bertahan. Karena lebih mudah mereka pindah lagi ke pupuk kimia. Pada hal saya berharap banyak sama dua orang ini. Jika berhasil, niscaya anggota pengajian yang lain juga ikut.
Karena sudah gagal, hasilnya saya bilang sama teman saya, “saya akan menyewa sawah meski hanya sepetak. Gimana kalau tanah ini kita jadikan demplot pertanian organic?”. Teman saya senang dan setuju. Jadilah saya menyewa tanah, dan atas sumbangan teman mulailah saya bertani dengan pola organic. Pertanian ini saya maksudkan untuk dijadikan teladan bahwa pertanian organic akan lebih manis hasilnya.
Terus jelas hingga demam isu tanam ketiga semenjak menyewa, tak ada warga desa saya yang mengapresiasi. Bahkan di demam isu tanam yang ke empat ketika ini, tetangga saya bahkan sering menyuruh saya supaya dicampur kembali menjadi fifty-fifty dengan pupuk kimia. Saya tak bergeming.
Bahkan ada teman saya yang lebih ekstrem lagi, “situ kan gres jadi petani? Saya sudah lama, jadi soal bertani sebaiknya berguru sama yang sudah lama”, katanya suatu ketika ketika beliau melihat sawah saya tidak sehijau sawah yang memakai pupuk kimia.
Ketika kemarin sawah saya dipanen, syukur alhamudulillah, hasilnya ternyata lebih baik dari sawah lain. Hasil produksinya lebih banyak, bulirannya lebih berat, di samping yang sangat nyata, ongkos produksinya juga lebih murah.
Saat ada pertemuan mingguan RT tadi malam, jamaah pengajian RT sudah mengakui bahwa pupuk organic ternyata tak kalah dari pupuk kimia. Meski saya sadar merubah kebiasaan bukan sesuatu yang gampang, tapi ratifikasi itu sudah menimbulkan saya optimis, harapan saya dan teman saya, suatu waktu warga desa saya akan beralih ke organic.
Dengan pola pertanian organic, saya mencicipi kebahagian tak terkira. Melihat hasil pertanian semenjak mulai ditanam, (makin) membesar, dan hasilnya panen terapi itu sudah bekerja dalam hidup saya. Saya bahagia.
Dengan pola pertanian organic, saya juga ikut mengurangi imbas iklim global meski melalui tindakan kecil ibarat ini. Dan terakhir, melalui hasil pertanian organic saya ikut juga menyehatkan tubung dari ganasnya hasil pertanian kimia. Dan asal tahu saja, ada tetangga yang sudah memesan untuk membeli hasil pertanian saya, bila saya mau menjualnya.
Nah, ingin sehat jiwa, lingkungan, dan tubuh? Ayo bertani, tentu dengan pola organik.
0 Response to "Bertani Itu Menyehatkan"
Post a Comment