Penyakit Padi Dan Penanggulangannya
Saturday, July 6, 2019
Add Comment
Penyakit merupakan suatu kondisi tidak normal yang mengakibatkan fungsi tumbuhan terganggu. Adanya penyakit sanggup diketahui dari tanda-tanda yang dialami tanaman. Beberapa penyakit yang sering menyerang tumbuhan padi, diantaranya bercak coklat, blast, hawar daun bakter, dan tungro.
1. Bercak Cokelat
Penyebabnya ialah cendawan helminthosporium oryzae. Cendawan ini sering menyerang tanah yang kurang subur atau tanah beririgasi kurang baik. Gejala serangan antara lain timbulnya bercak-bercak cokelat ibarat biji wijen terutama pada daun, tetapi sanggup pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk lingkaran kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah bau tanah berukuran lebih besar (0,4-1 cm X 0,1-0,2 cm), berwarna coklat dengan sentra kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Serangan ini sanggup mengakibatkan hilangnya hasil panen hingga 50% dan biji berkualitas rendah.
Pengendalian penyakit ini dengan cara memprbaiki kesuburan tanah, yaitu dengan menunjukkan pupuk sangkar atau kompos. Sebab tanah yang subur tidak akan gampang diserang cendawan tersebut. Tanam varietas yang tahan. Gunakan benih yang sehat atau beri perlakuan fungisida atau air panas pada benih. Pupuk yang seimbang terutama K yang cukup. Sanitasi lapang. Pengolahan tanah yang cukup, pengairan dan drainase yang baik sehingga akar tumbuh dengan baik. Penyemprotan fungisida dilakukan pada masa anakan maksimum.
2. Blast
Blast menginfeksi tumbuhan padi pada semua fase pertumbuhan yang disebabkan oleh cendawan pyricularia oryzae. Faktor pemicunya ialah terlalu banyak memakai pupuk yang mengandung unsur N serta curah hujan dan kelembaban tinggi. Gejalanya ialah adanya bercak seprti mata pada daun padi atau berbentuk belah ketupat, lebar ditengah dan kedua ujung meruncing. Selain pada daun, bisul juga menyerang ruas batang dan leher malai.
Pengendalian serangan penyakit ini dilakukan dengan cara memakai varietas yang tahan secara bergantian, menghindari penggunaan pupuk yang mengandung unsur N terlalu banyak, waktu tanam harus tepat semoga ketika pembungaan tidak banyak embun atau hujan, atau melaksanakan penyemprotan dengan fungisida secara berkala.
3. Hawar Daun Bakteri
Hawar daun basil (HDB) ialah salah satu penyakit yang sanggup mengakibatkan pertanaman padi mengalami puso. Penyakit ini disebabkan oleh bakterixanthomonas oryzae pv. oryzae yang sanggup menginfeksi tumbuhan mulai dari pembibitan hingga panen. Ada dua macam tanda-tanda penyakit HDB. Gejala yang muncul pada ketika tumbuhan berumur kurang dari 30 hari sesudah tanam, yaitu pada persemaian atau tumbuhan yang gres dipindah ke lapang, disebut kresek. Gejala yang timbul pada fase anakan hingga pemasakan disebut hawar (blight). Secara spesifik tanda-tanda tumbuhan terjangkit ialah timbulnya bercak berwarna kuning hingga putih, berawal dari terbentuknya garis lebam basah pada kepingan tepi daun. Bercak sanggup mulai dari salah satu atau kedua tepi daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh helaian daun. Apabila bisul melalui akar atau pangkal batang, tumbuhan terlihat kering ibarat terbakar.
Pengendalian penyakit ini seyogyanya dilakukan dengan penggunaan varietas yang mempunyai ketahanan lebih dari satu gen ketahanan (polygenic resisstant), menanam varietas yang berbeda dalam satu hamparan, pastikan jerami dari tumbuhan sakit sudah terdekomposisi tepat sebelum pindah tanam, hindari pemupukan N yang berlebihan, dan jarak tanam jangan terlalu rapat.
4. Tungro
Tungro ialah penyakit padi yang disebabkan virus tungro yang dibawa oleh wereng. Serangan penyakit ini mengakibatkan tumbuhan menjadi kerdil dan berkurangnya jumlah anakan. Pelepah dan helaian daun memendek dan daun yang terjangkit berwarna kuning hingga oranye. Daun muda sering berlurik atau strip berwarna hijau pucat hingga putih dengan panjang berbeda sejajar dengan tulang daun. Gejala mulai dari ujung daun yang lebih tua. Daun menguning berkurang jikalau daun yang lebih bau tanah terinfeksi.
Bila serangan terjadi pada ketika tumbuhan masih muda, sekitar umur 10-20 hari, akan mengakibatkan kehilangan hasil sedikitnya 65%. Sedangkan untuk serangan ketika tumbuhan berada pada fase akhir, kehilangan hasil tidak terlalu besar, yaitu sekitar 10-20%.
Pengendaliannya dengan cara memberantas banyak sekali jenis rumput liar yang merupakan sumber bisul bagi penyakit ini, rotasi tumbuhan dengan palawija, menanam varietas yang tahan tungro, pembajakan di bawah sisa tunggul yang terinfeksi, cabut dan bakar tumbuhan yang sakit, dan tanam dengan memakai sistem tabela atau SRI.
Pestisida organik untuk menanggulangi penyakit padi
Ramuan yang pertama memakai tembakau, cabai rawit, dan bawang merah masing-masing 1 kg, serta kapur dan sulfur 1 ons. Semua materi digiling atau ditumbuk menjadi satu hingga halus, kemudian tambahkan air sebanyak 1/10 (sepersepuluh) dari jumlah materi dan aduk-aduk hingga tercampur merata. Setelah didiamkan selama 12 jam, peras dan saring. Cairan siap untuk digunakan.
Dalam pengaplikasiannya pestisida tersebut disemprotkan ke tumbuhan yang terjangkit dengan takaran 4 cc/liter air. Untuk pencegahan lakukan setiap 5-7 hari sekali, sedangkan untuk penanggulangan tiga hari sekali.
Yang kedua memakai formula tunggal, yaitu dengan urin sapi. Sebelum dipakai urin harus diendapkan terlebih dahulu dalam wadah terbuka selama dua ahad semoga terkena sinar matahari. Setelah itu, urin diencerkan dengan enam kepingan air. Baru, adonan larutan disemprotkan.
Terakhir, ramuan dibentuk dari daun mimba, tembakau, dan kunyit masing-masing 1 gengam, urin sapi 2 liter, dan air 12 liter. Daun mimba, tembakau dan kunyit dihaluskan, kemudian direndam dengan air. Setelah 14 hari disaring. Air hasil saringan dicampur dengan urin sapi yang telah diendapkan selama 14 hari juga. Semprotkan adonan tersebut ke tumbuhan yang terserang, tanpa harus diencerkan lagi.
0 Response to "Penyakit Padi Dan Penanggulangannya"
Post a Comment