Manisnya Ubi Jalar Dan Bisnisnya
Tuesday, July 23, 2019
Add Comment
Maret 2007 Eddy Prijono pensiun pada usia 53 tahun. Alih-alih kesibukannya berkurang, justru kian meningkat. Mantan karyawan Telkom itu sekarang rutin memasok pasar swalayan dan produsen olahan ubijalar, 4-5 ton per bulan dengan harga Rp8.700 per kg. Eddy meraup omzet Rp43-juta per bulan. Pendapatan itu jauh lebih besar ketimbang ketika ia bekerja sebagai karyawan di perusahaan plat merah itu.
Eddy Prijono hanya memasok ubijalar cilembu yang bagus legit. Ubijalar itu dikembangkan di Kecamatan Pamulihan, Rancakalong, dan Tanjungsari, semuanya di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Hasil panen para pekebun ia beli seharga Rp4.000-Rp5.000 per kg. Satu kg terdiri atas 2-3 umbi. Anggota famili Convolvulaceae itu lantas dikirim ke produsen penganan di Jawa Timur dan Malang. Eddy memperoleh harga Rp8.700 per kg, termasuk ongkos kirim dari Sumedang ke Surabaya. Menurut Eddy biaya pengiriman mencapai Rp300 per kg.
Laba higienis yang diterima laki-laki kelahiran 1954 itu Rp3.400 per kg atau total Rp13-juta per bulan. 'Di Jawa Tengah dan Jawa Timur tidak ada ubi cilembu,' katanya. Itu peluang baginya. Oleh alasannya ialah itu ketika masih menjadi karyawan Telkom Bandung ia merintis pasar, pada 1998. Setiap kali berdinas ke Surabaya atau Malang, mobilnya dipenuhi ubijalar: ada yang matang, tetapi sebagian besar mentah. Ia mengatakan kepada pasar swalayan dan produsen penganan. Kebetulan pada 2004 Eddy dipindahtugaskan ke Surabaya. Ia semakin leluasa berbisnis umbi kerabat kangkung itu.
Saat ini volume pasokan berkisar 4-5 ton per bulan. Salah satu produsen penganan berbahan baku ubijalar ialah Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT) Malang yang mengelola Bakpao Telo. 'Setiap bulan perusahaan itu memerlukan 4 ton telo alias ubijalar sebagai materi baku bakpao', katanya.
Semua pasokan mengandalkan produksi para pekebun yang dibinanya semenjak 10 tahun lampau. Eddy mendapatkan seluruh panen pekebun dengan syarat: umbi sehat, bebas serangan hama dan penyakit, warna kulit kuning gading, berurat, diameter sekitar 7 cm, dan bentuknya lurus.
Dengan sistem kemitraan itu, pekebun juga merasa untung. Menurut Maman Rukmana, pekebun ubijalar di Kecamatan Pamulihan, Sumedang, biaya untuk memproduksi 1 kg ubijalar cilembu hanya Rp1.500. Artinya, bila Eddy membelinya Rp5.000, pekebun plasma memperoleh keuntungan Rp3.500/kg. 'Keuntungannya masih cukup tinggi,' kata Maman. Harga stabil
Maman membudidayakan ubijalar di lahan 1.000 m2, warisan orangtuanya. Hasilnya 1,2 ton tandas diborong pedagang. Harganya pun stabil, tak ibarat sayuran lain yang harganya anjlok ketika produksi melimpah di pasaran.
Sedikit demi sedikit lahan Maman bertambah seiring meningkatnya pamor ubi cilembu. Kini luas lahannya mencapai 1 ha. Dengan jarak tanam 10 cm x 15 cm, total ada sekitar 600.000 flora di lahan seluas itu. Dalam 4 bulan Maman akan memanen 12 ton ubijalar.
Saat ini total undangan setiap ahad mencapai 9 ton. Permintaan tiba dari eksportir di Jakarta dan pengepul di Surabaya. Sayang, Maman gres mampu memenuhi 3,5 ton saja. 'Itu pun sudah bekerja sama dengan pekebun lain,' kata Maman. Karena bila mengandalkan hasil panen sendiri, tentu tidak akan bisa memenuhi banyaknya permintaan.
Salah satu pekebun kawan ialah Ayit di Rancakalong, Sumedang. Pria 39 tahun itu sebelumnya hanya menanam padi. Karena kerap merugi ketika harga anjlok, ia beralih mengebunkan ubijalar. Ubijalar dibudidayakan di lahan 2.000 m2. Dari lahan seluas itu, Ayit memanen 2-2,5 ton.
Dengan harga jual Rp3.000/kg, laki-laki yang berkebun semenjak 1990-an itu memperoleh omzet Rp6-juta-Rp7,5-juta per ekspresi dominan tanam. Setelah dikurangi biaya produksi Rp3,5-juta, Ayit mengutip keuntungan higienis Rp2,5-juta-Rp4-juta per ekspresi dominan tanam atau Rp625.000-Rp1,8-juta/bulan.Sarat gizi
Ubijalar kerap dipandang sebagai penganan kelas 2. Padahal, bahwasanya umbi itu kaya gizi. Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Universitas Pasundan dan Fakultas Pertanian Universitas Winayamukti, Bandung, ubijalar mengandung 60,72% karbohidrat, 1,4% protein, 0,7% lemak, 14,16% gula total, 8,47% sukrosa 80 mg/100 gram vitamin C, 0,4 mg/100 gram riboflavin, 0,6 mg/100 gram niacin, dan 0,1 mg/100 gram tanin.
Dengan diolah menjadi penganan eksklusif, masyarakat pun tak sungkan mengkonsumsinya. Apalagi khasiatnya juga beragam. Oleh alasannya ialah itu undangan terhadap ubijalar pun meningkat. Bahkan, ubijalar Cilembu sekarang masuk pasar mancanegara. Sejak 2003 Singapura dan Jepang meminta pasokan boled-sebutan ubijalar di tanah Sunda. Singapura minta dipasok minimal 3 ton per minggu, sedangkan Jepang 12 ton per 2 minggu.
Jenis yang diminta tak hanya cilembu, tapi juga ubijalar lain ibarat marasaki yang berwarna ungu. Sumaji, contohnya setiap hari harus keliling kampung di Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur, untuk mencari pekebun yang tengah panen marasaki. Sehari ia harus memperoleh 1-2 ton ubijalar untuk memenuhi undangan pedagang dan pabrik. Dengan harga jual Rp1.300 per kg, setidaknya omzet Rp1.300.000 memenuhi pundi-pundi kantongnya setiap hari. Sumaji mengutip Rp300/kg, sehingga pendapatan bersihnya Rp9-juta per bulan.
Permintaan juga tiba dari kawasan lain ibarat Bandung, Jakarta, hingga Sumatera yang mencapai lebih dari 50 ton per bulan. Itu belum termasuk undangan dari pabrik getuk di Malang yang minta dikirim 100 ton per 6 bulan. Karena itu ia juga menampung hasil panen pekebun di Pacet, Trawas-keduanya di Mojokerto-Blitar, dan Dampit. Ubi yang ditampung harus bebas hama penyakit dan berukuran minimal 200 gram. Pewarna
Manisnya bisnis ubijalar bukan berarti tanpa kendala. Jika penanaman dilakukan pada ekspresi dominan pancaroba, ubi rentan terjangkit hama lanas. Lanas hama yang paling banyak menyerang ubijalar. Serangan hama itu bisa mengakibatkan kerugian bagi pekebun ubi. Maman misalnya, pada Juni 2006 rugi hingga Rp17-juta jawaban serangan hama itu. Gawatnya lagi, hama itu belum ditemukan cara pengendaliannya.
Padahal bila hambatan teratasi, pasar ubijalar terbuka. Tak hanya pasar domestik, tapi juga pasar ekspor. Misalnya Luki Budiarti, eksportir di Malang. Sejak 2002 ia memasarkan marasaki ke Okinawa, Jepang. Kebetulan teman dari rekan bisnis Luki sedang mencari ubi untuk diolah di Jepang. Yang dicari ialah ubijalar ungu yang sudah matang. Selain sebagai materi penganan, ubi itu juga dijadikan sebagai zat pewarna makanan.
Awalnya Luki hanya mampu mengirim 2 kali dalam setahun, masing-masing 15 ton sekali kirim. 'Barangnya masih belum banyak,' kata Luki. Pada 2004 ia mulai bisa mengirim ubi setahun 3-4 kontainer berkapasitas 26 ton. Bahkan pada 2007 lalu, ia bisa mengirim lebih dari 4 kontainer. Dengan harga jual Rp9.000 per kg, setidaknya pendapatan tiap kontainer mencapai Rp250-juta. Luki pun mengakui manisnya keuntungan dari ubi manis.

0 Response to "Manisnya Ubi Jalar Dan Bisnisnya"
Post a Comment