Sumberdaya Ikan Sidat Di Indonesia
Sunday, December 29, 2019
Add Comment
Sumberdaya Ikan Sidat di Indonesia
A. Pendahuluan
Ikan sidat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang laris di pasar internasional (Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain), dengan demikian ikan ini mempunyai potensi sebagai komoditas ekspor.
Di Indonesia, ikan sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan bahari dalam menyerupai pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat.
Tidak menyerupai halnya di negara lain (Jepang, dan negara-negara Eropa), di Indonesia sumberdaya ikan sidat belum banyak dimanfaatkan, padahal ikan ini baik dalam ukuran benih maupun ukuran konsumsi jumlahnya cukup melimpah.
Tingkat pemanfaatan ikan sidat secara lokal (dalam negeri) masih sangat rendah, akhir belum banyak dikenalnya ikan ini, sehingga kebanyakan penduduk Indonesia belum familiar untuk mengkonsumsi ikan sidat. Demikian pula pemanfaatan ikan sidat untuk tujuan ekspor masih sangat terbatas.
Agar sumberdaya ikan sidat yang keberadaannya cukup melimpah ini sanggup dimanfaatkan secara optimal, maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis yang diawali dengan mengenali tempat yang mempunyai potensi sumberdaya sidat (benih dan ukuran konsumsi) dilanjutkan dengan upaya pemanfaatannya baik untuk konsumsi lokal maupun untuk tujuan ekspor.
B. Sumberdaya Ikan Sidat Di Indonesia
Indonesia paling sedikit mempunyai enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla mormorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Jenis-jenis ikan tersebut menyebar di daerah-daerah yang berbatasan dengan bahari dalam. Di perairan daratan (inland water) ikan sidat hidup di perairan estuaria (laguna) dan perairan tawar (sungai, rawa dan danau) dataran rendah sampai dataran tinggi.
C. Upaya Dalam Meningkatkan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat
1. Inventarisasi Potensi Sumberdaya Ikan Sidat di Indonesia
Data wacana penyebaran dan potensi ikan sidat perlu dikumpulkan dan dianalisis. Pada ketika ini data-data hasil penelitian tersebar di beberapa perguruan tinggi tinggi dan lembaga-lembaga penelitian serta forum lainnya. Apabila dihimpun, akan tampak di lokasi-lokasi mana saja yang masih harus dilakukan inventarisasi dan gosip apa saja yang masih harus dikumpulkan sehingga datanya sanggup dipetakan.
Kegiatan inventarisasi ini harus dilakukan sampai dihasilkannya suatu "peta distribusi dan potensi ikan sidat di Indonesia". Melalui peta tersebut pengguna sanggup mengetahui dengan gampang mengenai penyebaran jenis, kelimpahan dan stadia ikan sidat yang ada di perairan Indonesia.
2. Sosialisasi Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Sidat Kepada Masyarakat
Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengenal bentuk / rupa ikan sidat dan merasakan rasanya. Agar ikan sidat sanggup dikenal dan sanggup diterima sebagai ikan konsumsi oleh masyarakat secara luas maka harus ada usaha-usaha penebaran ikan sidat di daerah-daerah yang secara alami mustahil akan didapatkan ikan sidat (di luar jalur ruayanya).
Benih ikan sidat yang ditebar di suatu perairan (sungai, rawa dan danau) akan tumbuh dan ketika suatu ketika tertangkap oleh pemancing atau penangkap ikan, maka mereka akan berusaha untuk mengenalinya (mengenal / mengetahui nama jenisnya) dan akan mencoba untuk mengkonsumsinya. Melalui perjuangan ini, lambat laun masyarakat akan mendapatkan ikan sidat sebagai ikan konsumsi. Apabila masyarakat telah mengenal dan mendapatkan ikan sidat sebagai ikan konsumsi, selanjutnya diperlukan masyarakat akan membutuhkan ikan tersebut dan ikan ini menjadi komoditas yang diperjualbelikan di pasar lokal.
Sejalan dengan perjuangan penebaran ikan sidat di perairan-perairan umum, dilakukan pula pengenalan produk-produk olahannya kepada masyarakat (misalnya: dendeng sidat, pepes, presto, sop, kobayaki, sidat asap dan lain-lain), baik melalui media masa elektronik maupun media masa cetak dan pameran-pameran.
Kegiatan ini membutuhkan waktu yang cukup usang (3 - 5 tahun), namun harus dilakukan kalau ingin biar masyarakat mengenal, menyenangi dan membutuhkannya. Sasaran tamat dari acara ini yaitu meningkatkan seruan masyarakat akan ikan sidat. Apabila seruan ikan ini telah meningkat maka untuk memenuhinya otomatis akan memacu acara penangkapan di tempat yang merupakan tempat penyebarannya dan juga akan memacu acara budidayanya. Ikan sidat yaitu ikan yang bersifat katadromos artinya ikan ini akan beruaya ke bahari dalam ketika akan bereproduksi. Karena ikan ini mustahil berkembangbiak di lokasi yang kita tebari, maka upaya penebaran ikan ini harus dilakukan secara berulang kali.
Dalam hal acara penebaran (stocking) ke perairan umum, perlu di awali dengan uji coba pada perairan yang luasnya terbatas (misalnya di situ) dan dikaji dampaknya terhadap populasi jenis ikan lain yang ada di perairan tersebut. Dari kajian ini diperlukan akan diperoleh gosip mengenai efek (positif atau negatif) dari acara stocking tersebut. Stocking benih ikan sidat ini nantinya diperlukan selain akan dikenali oleh masyarakat juga akan bisa meningkatkan produksi ikan sidat dari perairan umum sebagaimana yang telah dilakukan di Australia.
3. Pengembangan Teknik Penangkapan Ikan Sidat di Perairan Umum
Apabila ikan sidat telah dikenal dan dibutuhkan oleh masyarakat maka acara penangkapan ikan sidat di perairan umum akan meningkat. Untuk mengarahkan biar acara penangkapan ini tidak bersifat destruktif bahkan mengancam kelestariannya maka perlu diperkenalkan teknik penangkapan yang sederhana dan ramah lingkungan. Di samping itu juga perlu dipikirkan dari awal, upaya-upaya konservasi di lokasi-lokasi tertentu yang merupakan jalur ruaya reproduksi ikan tersebut sehingga proses recruitment ikan tersebut tidak terganggu.
4. Pengembangan Teknik Budidaya Ikan Sidat
Sejalan dengan upaya sosialisasi ikan sidat kepada masyarakat, upaya pengenalan teknik budidayanya pun perlu dilakukan. Teknik budidaya sidat yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat (petani ikan) yaitu teknik budidaya yang sederhana yang tidak membutuhkan banyak modal. Agar biaya produksi pada budidaya ikan sidat relatif rendah maka petani perlu diberi gosip yang memadai mengenai pakan sidat. Hal ini sebab 50-60% dari biaya produksi berasal dari komponen pakan, sehingga apabila pakan sidat murah maka biaya produksi akan menjadi murah (rendah).
Ikan sidat merupakan ikan karnivora murni yang membutuhkan pakan berupa binatang lain. Apabila ikan tersebut diberi pakan buatan maka kadar protein pakannya harus tinggi (> 45%) sehingga harga pakannya mahal, hal ini akan menjadikan biaya produksi dalam budidaya sidat menjadi tinggi sehingga harga sidat kalau di jual akan tinggi pula dan ini akan menghambat sosialisasi ikan sidat sebagai ikan konsumsi masyarakat.
Untuk menyiasati biar biaya produksi rendah, maka petani harus dibiasakan untuk mulai memakai sumber-sumber protein yang ketika ini melimpah namun tidak / belum dimanfaatkan secara maksimal, misalnya: keong mas, limbah pengolahan ikan dan ternak atau binatang lain yang sanggup dibudidayakan secara sederhana dan murah (misalnya: bekicot, cacing tanah dan lain-lain).
Pengembangan teknik budidaya sidat sederhana yang dilakukan oleh masyarakat (petani kecil) dengan skala perjuangan relatif kecil tetapi pelaksananya (jumlah petani yang terlibat) banyak diperlukan pada jadinya bisa menghasilkan produksi ikan sidat yang cukup besar dengan harga yang relatif rendah sehingga terjangkau oleh masyarakat.
Bilamana petani-petani ikan sidat telah banyak jumlahnya dan produksi dari hasil budidayanya telah cukup tinggi dan stabil maka produksi yang tadinya untuk tujuan konsumsi lokal sanggup dialihkan ke tujuan ekspor.
Agar supaya mutu produk petani dan kontinuitas produksi lebih terjamin maka petani ikan perlu menghimpun diri dalam asosiasi-asosiasi yang bisa berdikari dan bisa menyebarkan usahanya ke arah yang lebih maju.
Bersamaan dengan pengembangan budidaya di masyarakat dan oleh masyarakat, forum penelitian dan perguruan tinggi tinggi harus melaksanakan penelitian-penelitian yang mengarah pada pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh petani pelaksana dan penciptaan teknologi yang lebih maju dengan tidak mengesampingkan aspek produktivitas dan efisiensi.
5. Pengembangan Teknik Pengolahan Produk Ikan Sidat
Untuk meningkatkan daya terima masyarakat akan ikan sidat dan nilai tambah ikan sidat itu sendiri, maka produk yang di jual ke konsumen seyogyanya bukan hanya dalam bentuk segar, tetapi juga dalam bentuk olahan. Oleh sebab itu maka kajian-kajian wacana proses pengolahan ikan sidat perlu dikembangkan terutama produk olahan yang sangat diminati oleh konsumen lokal ataupun konsumen internasional.
D. Penutup
Potensi sumberdaya ikan sidat yang cukup besar namun pemanfaatannya belum optimal bahu-membahu bisa memperlihatkan manfaat yang signifikan bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan perjuangan dan peresapan tenaga kerja dalam kegiatan-kegiatan penangkapan, budidaya, pengolahan dan tataniaganya apabila diupayakan secara sungguh-sungguh dan bijaksana. Untuk itu maka perlu dilakukan upaya-upaya yang sistematis dan rasional ke arah pemanfaatannya dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan.
Daftar Pustaka
1. Affandi, R. 2001. Budidaya Ikan Sidat. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
2. Matsui, I. 1970. Theory and Practice of Eel Culture. Ameriind Publishing Co. PVT. LTD.
3. Tesch, F. W. 1977. The Eel. Biology and Management of Anguilla Eels. Chapman and Hall. London.
Sumber: Ridwan Affandi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor. Dalam Prosiding Seminar Riptek Kelautan Nasional

0 Response to "Sumberdaya Ikan Sidat Di Indonesia"
Post a Comment